Sebenarnya aku tidak
ingin ikut ekspedisi gypsy ini namun sahabatku, Opie selalu mendesakku.
Hampir saja aku gila dibuatnya. Semua alasanku mentah disambar argumen-argumennya
yang membuatku menyerah. Dan akhirnya aku di sini bergabung dengan teman-temanku,
pecinta alam Sriwijaya, sembilan orang jumlahnya.
Ransel yang kubawa
kuletakkan tak jauh dari bangkuku. Sengaja tak kuletakkan di bagasi bus karena
isinya tak begitu banyak, bisa kuselipkan begitu saja. Aku langsung
menghempaskan pantatku ke jok bus sampai bunyinya terdengar oleh Opie. Sorot
matanya bertanya padaku. Aku balik membalas dengan lirikan lalu melempar
pandanganku ke luar jendela. Dalam hati kurutuki bus yang belum juga
jalan-jalan. Aku semakin tegang.
Akhirnya bus pun
berjalan pas pukul sembilan pagi. Tubuhku bergetar tanpa bisa ditahan, perasaan
takut,cemas dan gundah datang tanpa permisi. Celotehan teman-temanku yang riang
memenuhi bus antarkota yang kami naiki, mengajakku untuk melupakan kegundahanku
tapi aku tak bisa. Aku tak bisa mengenyahkannya! Perjalanan ini mengingatkanku
pada kenangan lima
tahun yang lalu….kenangan yang menghantuiku sekian lama….
Untung saja aku duduk
dengan Wardana, leader kami. Cowok
satu ini tidak usil, tidak juga pendiam. Aku tidak terganggu dengan
keberadaannya. Opie benar-benar memikirkan dengan matang bagaimana membuatku
nyaman ikut ekspedisi ini.
Bus meninggalkan Palembang dan sekarang
melewati Prabumulih. Sepanjang jalan aku hanya memandangi kaca jendela bus.
Bayang-bayang pohon dan rumah melintas, membias…. Tak satu kata pun keluar dari
mulutku. Aku tegang. Tak kusadari Wardana sedang menatapku, mengawasi dengan
sorot matanya yang tajam. Aku semakin gelisah. Kulirik Wardana, sorot matanya
telah melembut. Aku mencoba tersenyum padanya tapi kupikir hanya seringai yang
tercipta.
“Kau begitu gelisah,”
katanya lembut. Aku mengangguk ragu.
“Tapi paling tidak
kau telah mencoba untuk menghadapi traumamu. Aku salut padamu.” Aku kembali
mengangguk menanggapi perkataan Wardana. Senyumku mengecut.
Benarkah aku berani?
Kalau bukan karena Opie mungkin aku takkan pernah lagi menginjakkan kakiku
menapaki Gunung Serelo. Sudah lama aku tak mendaki. Yah….sejak peristiwa itu….
Kenangan itupun
bergulung-gulung berputar menampilkan kilasan film masa lalu saat aku dan JP
berusaha menaklukkan tebing Serelo yang berbentuk jempol itu. Andai saja piton itu tak lepas, mungkin JP masih
bersamaku di sini. Tebing Serelo telah menelannya bulat-bulat!
Tanpa sadar satu-satu
bening itu gugur dari kelopak mataku. Mengaburkan pandanganku. Wardana mengulurkan
tangannya, mengelus punggung tanganku, seolah ingin mengalirkan ketenangan. Aku
tetap terisak dalam diam.
“Aku tahu kau bisa
mengatasinya. Tapi jika kau perlu seseorang, jangan ragu-ragu memintanya
padaku…,” ucap Wardana lembut
Bus telah sampai di
Simpang Gajah, start awal kami. Masih
sempat kulihat Wardana menatapku cemas
saat satu-satu berloncatan dari bus dengan menyandang carier masing-masing. Aku langsung menghampirinya. “Sepertinya aku
memang butuh bantuanmu. Tolong jangan jauh-jauh dariku,” pintaku “Sure… my
lady…,” jawabnya riang. Dan keceriaannya sedikit menular padaku.
Jalan menanjak terus,
penuh dengan batu-batu. Tersengal-sengal aku menapakinya. Opie ada di depanku. Cariernya sampai menghalangi
pandanganku. Dia begitu bersemangat. Semangat….Dulu juga aku seperti itu.
Perjalanan mendaki gunung merupakan hal yang selalu kutunggu-tunggu. Membuatku
bergairah apalagi jika JP ada bersamaku. Ah… JP…. kenapa sekarang terasa
sakit…. Apakah kau masih di sini. Apakah kau tahu apa yang kurasa sekarang…. JP
semuanya terasa perih….
Tim pembuka jalur, Qjo
dan Ivan sedang membidik puncak Serelo dengan kompasnya untuk menentukan
koordinat keberadaan kami dan menentukan arah mana kami harus berjalan.
Saat kupandangi
puncak yang berbentuk jempol itu, peluhku menitik di dahi. Dingin!
Teriakan Abas, salah
satu anggota tim, menyentak kesadaranku. Koordinat sasaran tembak telah
ditemukan 40 derajat. Ekspedisipun dimulai!
Wardana memang selalu
tak jauh dariku. Kadang dia membantuku melepaskan jerat tumbuhan rambat yang
menghalangi kakiku. Kesigapannya mengingatkanku pada JP, kekasihku….
Bayang-bayang dirinya
seketika hadir di otakku. Aku merasa saat ini dia di sisiku. Celotehannya yang
riang, tawanya yang bergema di tengah hutan terngiang lagi. Dadaku jadi sesak.
Kulangkahkan kakiku
cepat-cepat menjajari Wardana. Opie memandangiku sesaat, kulihat matanya cemas
ke arahku. “Tidak apa-apa,” sahutku menenangkannya. Tampaknya Opie meragukan
perkataanku itu, namun dia tak berkata apa-apa. Itu yang membuatku lega. Dia memang
wise girl.
Empat jam berlalu,
suara renyeng mendominasi suasana
hutan diselingi gelak tawa teman-temanku yang tak hentinya bercanda. Suara
aliran sungai sayup-sayup terdengar. Semakin dekat semakin deras gemuruhnya. Di
tengah sungai terdapat pohon tua tumbang yang melintang melawan arus sungai.
Sayang ujung pohon itu tidak mencapai tepi sungai, kami tidak dapat menggunakannya
sebagai jembatan alam walau di ujung tepi sungai itu ada akar-akar pohon lain
yang menjulur seolah-olah ingin menggapai pohon tumbang itu. Untungnya ada satu
lagi pohon tumbang yang betul-betul rebah melintangi sungai. Pohon itu akhirnya
menjadi jembatan darurat kami.
Kuletakkan ranselku
untuk menghemat tenaga. Kutegak beberapa teguk air aqua. Pada kesempatan ini kusempatkan meredakan nafasku yang
tersengal-sengal. Langit sudah semburat lembayung, petang datang saat kami
satu-satu meniti pohon tumbang berusaha menyeberang sungai pertama yang kami
lalui.
Hari mulai menggelap.
Wardana memutuskan kami untuk berkemah. Aku, Opie, Utek dan Cici langsung
mengeluarkan nesting, parapin serta
makanan dan mulai memasak. Aris dan Atuk memasang bivoak untuk tampat kami bermalam. Hari semakin larut, hutan
berdesau, sebentar-sebentar terdengar suara binatang malam. Lenguhannya kadang
panjang kadang pendek. Dari jauh suara burung hantu menciptakan aroma
tersendiri. Perapian masih menyala, apinya seolah berdansa dengan hembusan
angin, berderak kayu saat dilalap api, baranya berdesis-desis.
Mataku nyalang tak bisa terkatup, aku takut
tidur walau badanku merintih minta istirahat. Kudengar Abas bersenandung lagu
Bon Jovi, Bed of Roses dari walkmannya. Ah… lagu itu! Lagu yang dulu aku dan JP
seringkali nyanyikan. Suasananya persis seperti ini. Ada perapian, dia memetik gitarnya dengan
santai, mendendangkan lagu itu. Aku mengaguminya lewat mataku. Aku suka sekali
jika ia sedang bernyanyi. Mimik wajahnya penuh penjiwaan. Mata itu tajam tapi
jenaka. Hidung itu mengingatkanku pada hidung singa. Mulutnya termasuk lebar
cuma unik dan rambutnya gondrong ikal keriting. Kesan cuek, apa adanya itu yang
membuatku jatuh cinta padanya. Sekaligus membuatku susah untuk melupakannya,
sampai saat ini. JP….kau dengar….sampai sekarang aku masih mencintaimu, bisikku
pelan.
Wardana
membangunkanku. Senyumnya mengambang saatku mengerjapkan mata. “Bangun,
Neng…sudah siang, kita harus cepat-cepat berbenah untuk melanjutkan perjalanan.
Base camp masih jauh. Ayo bangun!”
Kubasuh mukaku dengan
air sungai. Kesegarannya mengusir kantukku. Opie melakukan hal yang sama.
“Nyenyak tidurmu?” Tanya Opie. “Tidak. Aku mimpi dia lagi semalam. Hanya saja
dalam mimpiku ini dia tampak nyata. Dia begitu pucat. Tulang rusuknya begitu
terasa waktu kupeluk dia. Aku begitu merasakan kerinduan yang amat sangat
darinya. Saat dia lenyap aku merasa kehilangan….”
“Aku tahu,” jawab
Opie, “aku mendengar kau terisak sendiri dalam tidurmu. Apa kau selalu bermimpi
dia?”
“Ya….hampir setiap
malam, entahlah…aku tak tahu mengapa aku selalu bermimpi tentangnya.”
“Mungkin karena kau
tak mau melepaskannya dan merelakan kepergiannya,” sahut Opie hati-hati.
“Mungkin…,” desahku.
“Aku tak bermaksud
mengguruimu. Kupikir kau tenggelamkan dirimu dalam penyesalan serta kenangan
dirimu pada JP. Kupikir dengan perjalanan ini kau mau menghadapi kenyataan
pahit itu. Aku memang terlalu memaksamu. Aku ingin kau lepas dari bayang-bayang
ini. Aku tak menyuruhmu untuk melupakannya. Tidak! Kenangan itu adalah sebagian
perjalanan hidupmu dan tak mungkin hilang. Tapi kau hidup bukan untuk peristiwa
yang lalu, kau hidup untuk sekarang dan masa datang! Lis…,kupikir JP pun akan
mengatakan hal yang sama….”
“Akan kucoba,” kataku
serak.
“Harus begitu! Buah
duku buah kedondong, harus dicoba dong…,” seloroh Opie yang memaksaku untuk
tertawa.
Sasaran tembak
ditentukan, membuka jalur baru lagi, merambah segenap sisi hutan.
Sulur-sulur tumbuhan rambat seperti
menyalami kami. Riak air sungai-sungai kecil menyegarkan tubuh kami dengan
tingkahnya. Angin menggiring kami menuju tujuan akhir kami, tebing Serelo yang
menjulang.
Kekokohannya
menggetarkan hatiku. Hitam sewarna besi. Curam mengikis nyali. Aku terpaku
memandangnya. Sanggupkah aku menapakinya lagi setelah lima tahun berlalu. Dulu langkahku riang
menapakinya. Kini kepiluan dan kepedihan menggelantung erat di kedua kakiku.
Senja kembali
menyambut kami saat tiba di base camp.
Keadaannya masih sama seperti dulu, di dalamnya ada perapian kecil sederhana.
Dindingnya adalah anyaman bambu penuh lubang-lubang, tempat keluar masuk hawa
pegunungan Lahat yang dingin.
Teman-temanku begitu
antusias untuk mendaki Kedaton Satu,
punggung Serelo dan langsung menuju Kedaton
Dua yang lebih terjal keesokan harinya di pagi hari, sedang aku terpuruk
sendiri.
“Kau naik besok?”
tanya Wardana hati-hati.
“Entahlah….” Jawabku
gugup
“Serelo tampak cantik
di pagi hari…., sayang kalau tak dinikmati. Kalau naik ajak aku menemanimu.”
“Tentu siapa lagi,”
jawabku tanpa sadar hingga memunculkan sebuah senyuman di wajah Wardana yang
aku sendiri tak berani menebak artinya.
Kuingat sekali,
Serelo tampak cantik di waktu pagi. Awan-awan mengepunginya, hingga kita merasa
di negeri awan. Hembusan anginnya sejuk membuai kita, menggoda kita untuk
memasukkannya penuh-penuh ke paru-paru kita. Langit birunya melengkung bersih.
Lalu semburat sinar matahari yang malu-malu muncul di garis horizon seketika
meledak dengan cahaya putih yang kaya. Jika mata kita berpendar, berdiri tegak
gugusan bukit-bukit lain. Hitam membiru kontras dengan kehijauan pohon. Saat
awan tersibak tampak lekuk tubuh sungai Lematang yang berkilauan ditimpa sinar
keemasan mentari. Serelo memang cantik di pagi hari dan JP menikmatinya setiap
hari, berada dalam pelukan alam yang lestari….
***
Sebuah elusan tangan
menjalar di pipiku. Lembut dan begitu
akrab. Kubenamkan kepalaku pada seluruh tangannya. Aku begitu merindukannya.
Kurasakan tangan itu mengangkat tubuhku, membawaku ke dalam rangkulannya.
Hidungku mencium kembali aroma tubuh yang kukenal yang telah menyatu denganku.
“Lis….rindukah kau
padaku?” tanyanya. Aku mengangguk tanpa membuka mata. “Kau tahu aku selalu
mengingatmu. Tak bisa melupakanmu,” jawabku lirih
“Aku pun begitu, aku
selalu berharap kau datang. Lama sekali kau datang,” desahnya kecewa.
“Aku tidak tahu kau
menungguku. Tapi tidakkah kau senang aku telah datang?”
“Yah…aku senang
akhirnya kau datang. Aku sangat menantikannya, memelukmu seperti ini hingga kau
merasa tentram, tidak bimbang, tidak bersedih karena aku. Aku ingin kau bahagia
menjalani hidup ini. Jangan cemaskan aku. Aku ada dalam dirimu. Kau percaya?”
“Aku percaya. Peluk
saja aku,” desahku.
Tangan itu mengelusku
dengan sayang. Pelukannya semakin erat. Aku aman. Aku hangat. Sampai suatu
suara mengusikku….
Samar-samar namaku
disebut berulang-ulang di telingaku. Dengan enggan kubuka mataku. Di depanku
telah ada Wardana yang berjongkok memeluk pinggangku. Harness
menyelubungi
tubuhnya. Aku tersentak!
“Jangan bergerak
dulu, tebing ini labil,” ucapnya tenang. Mataku langsung berserobak ke
sekelilingku. Kanan kiri jurang! Aku terpekik dan langsung memegang Wardana
erat-erat.
“Ini tempat jenazah
JP ditemukan,” kataku parau.
“Aku tahu….” Jawab
Wardana sabar. “Berpeganglah erat padaku, kita akan ditarik ke atas.”
Aku langsung menuruti
perintah Wardana. Saat tali telah ditarik, aku memejamkan mata, namun sinar
kuning menyilaukanku. Sinar itu datang dari gelang tembaga ukiran ornamen emas
yang melingkar di lenganku. Sisi dalamnya tertulis ‘kuukirkan namamu dalam
gaung Serelo’. Sebuah gelang milik JP yang selalu melekat pada lengannya.
Untuk
Tim Ekspedisi ‘Gypsy Crazy’ Serelo
LALU ARUS ITU MENYERETKU....
Aku adalah seorang wanita,
umurku belum genap 27 tahun. Aku lahir dalam naungan bintang virgo yang menurut
para ahli astrologi, aku adalah seorang yang sangat romantis, perfeksionis,
kritis, pemikir serta kadang kala melankolis. Namun, kupikir bukanlah naungan
zodiak itu yang membentuk karakterku, tetapi kesan-kesan saat aku kecil yang tertangkap dalam kaledoskop
otakku. Kesan-kesan mendalam itulah yang membentuk karakterku. Saat dewasa,
kita memang berlaku fleksibel namun bukankah kita selalu saja menoleh ke
belakang pada memori kecil kita yang telah menjadi semacam jatidiri, pondasi
pribadi kita. Sadar tidak sadar kita akan selalu menilik dari apa yang kita rasa,
kita tangkap dengan telinga, kita lihat dengan dua bola mata serta dengan hati
yang lebih peka, lebih polos, lebih suci dibanding saat kita dewasa. Mungkin
karena kemurnian itulah yang mengkristalkan prilaku kita selanjutnya.
Aku seorang wanita, umurku
belum genap 27 tahun. Aku bekerja di sebuah butik yang cukup terkenal di
ibukota. Karier yang memang kukuasai berkat talenta dan kegigihanku. Aku puas
dengan apa yang telah kucapai karena baru kali ini aku merasa lepas dari alur
kehidupan yang memaksaku untuk melakukannya tanpa bertanya dulu padaku apakah
aku MAU dan bisa menjalaninya. Karena menurut mereka, semua itu ‘BAIK’. Lalu
arus itu menyeretku, tahu-tahu aku telah sekolah. TK,SD, SMP,
SMA lalu kuliah akhirnya kerja. Setelah itu....kawin!
Apakah memang seperti ini
alur kehidupan? Apakah aku harus kembali terjebak dengan ‘skenario ideal’ bahwa ‘BAIK’ jika
kita, para wanita yang umurnya sudah kedaluarsa ini cepat-cepat mendapatkan
suami. Masih kuingat suara ibuku di telepon yang begitu berharap aku
cepat-cepat kawin, punya suami dan membentuk keluarga baru. Telepon itu
kuterima dua hari yang lalu namun suara ibuku masih bergaung keras di
telingaku....
“ Piye, Ndok? Sudah
dipikir belum? Kenapa sih...kok mesti lama-lama. Opo sih yang dicari. Umur
sudah pas. Kerja sudah ada. Tunggu apalagi toh....”
“ Ah.... Ibu. Nisa belum
berpikir sejauh itu, Bu. Ibu sabar aja deh. Nisa masih harus menentukan yang
terbaik bagi Nisa. Ibu tentu ingin Nisa bahagia khan.... Nisa ngak ingin salah langkah, Bu.”
“
Iya ibu ngerti, Ndok. Cuma mbok yo inget umurmu itu kalau sudah tiga puluh
nanti susah cari suami. Susah punya anak.
Nanti kamu sendiri yang menyesal.”
“
Iya deh Bu, Nisa ngerti.... doakan aja Nisa cepet dapet jodoh.”
“
Lho, apa Mas Bayu nggak berpikir ke hubungan yang serius?”
“
Malah dia yang selalu merongrong Nisa, Bu”
“
La! Kalau gitu tunggu apalagi!”
“
Entahlah, Bu. Nisa masih ragu.”
“Jadi
untuk apa hubunganmu selama ini?”
“
Ah... Ibu, masa pacaran ukurannya langsung ke pernikahan. Kasihan dong yang
ngak pacaran jadi ngak kawin kawin....” selorohku penuh canda.
“
Yah terserah kamulah, Ndok. Ibu Cuma mengingatkan saja. Semua memang kamu yang
menentukan karena kamu yang akan menjalani semua ini nantinya.”
“
Iya, Bu.”
“
Yo wes.” Ibuku menutup pembicaraan kami.
Haruskah
aku kembali secara sadar terjun lagi dalam alur kehidupan seperti yang berlaku
pada setiap orang di muka bumi ini. Kalau dulu aku tidak tahu apa-apa, sekarang
aku telah dewasa. Tentu aku sadar akan pilihan yang disodorkan ibuku.
Kawin.
Cuma lima huruf
tapi begitu rumit. Mengusutkan neuron-neuron di batok kepalaku. Bagaimana
membuat mereka mengerti aku tak mau lagi terseret, aku tak mau lagi melakukan
sesuatu yang tidak kuinginkan. Aku wanita normal. Aku ingin punya suami, punya
anak namun aku tak mau di bawah ‘todongan’ baik oleh keluargaku,ataupun oleh
keadaan. Bukan aku tidak menghargai ikatan perkawinan. Bukan...., aku malah
menjunjung tinggi, karena bagiku kawin bukan hanya urusan aku dengan laki-laki
yang kucintai tapi lebih dari itu. Dua keluarga yang kawin, dua tradisi, dua tata
cara, dua kebiasaan.
Jika
kupikirkan hal itu walaupun secara sadar, aku tetap saja, rupanya terjun bebas
pada alur yang ditetapkan manusia untuk dijalani oleh manusia.
Setelah
kawin lalu apa? Sederhana jawabannya yaitu anak! Kudengar cerita temanku yang
telah menikah lima
tahun yang lalu. Dia berkeluh kesah padaku, bagaimana sakit hatinya saat
orang-orang menanyakan kapan dia mau punya anak. Kok belum punya juga padahal
sudah lima
tahun kawin. Dia bercerita padaku bagaimana ia dan suaminya berupaya ke dokter
spesialis bahkan ke orang pintar agar dapat mempunyai anak kandung sendiri.
Itulah.... kadang secara tidak sadar, alur yang diciptakan sebenarnya
menimbulkan penderita,juga belenggu. Kita harus berjuang keras menyamai standar
yang paling ideal, sekalipun itu menyakitkan seperti temanku itu, ia berjuang
keras memenuhi ‘tuntutan ideal’ bahwa orang kalau sudah kawin harus punya anak.
Kalau tidak juga dikaruniai seorang anak maka kata kata cemooh berselimut
senyum dan canda terlontar dari mulut-mulut berbisa hingga menghujam ke relung
terdalam, sulit tercabut dan selalu mengganggu saat tidur maupun bangun.
Kasihan temanku itu dan kasihan untuk diriku sendiri karena todongan kawin itu
telah menampakkan larasnya di keningku. Aku merasa dipaksa menerima tongkat
estafet yang tidak kukehendaki sebagai awal penderitaanku. Terus terang aku
takut bernasib sama seperti temanku itu. Aku berharap mempunyai keberaniaan
untuk menghadapinya.
Tak
lama kemudian kudengar dia mengadopsi anak. Syukurlah! Ia bisa mengatasi masalahnya.
Aku turut senang, karenanya kutulis surat
untuknya. Kuhibur dia dengan cerita tentang anak adopsi. Aku pernah membacanya
tapi aku lupa judul buku itu. Isi ceritanya begitu menggugahku. Cerita itu
dimulai dari seorang anak yang datang ke rumah temannya untuk belajar bersama.
Di ruang tamu dia melihat ada satu anak yang baik warna kulit, rambutnya dan
bentuk badannya lain sendiri dari seluruh anggota keluarga yang lain. Hal itu
mengusik hatinya. Begitu temannya kembali dengan segelas air lemon untuknya,
anak itu langsung menanyakan hal itu. Anak yang ditanya itu menjawab dengan
tenang, “ Dia adik angkatku.” Dan
anak itu langsung menambahkan begitu dilihatnya wajah cemooh yang terpancar
dari wajah temannya. “ Tahukah kau perbedaan antara anak angkat dengan anak
kandung?” Temannya itu menggeleng. “ Kuberi tahu ya, anak kandung tumbuh dalam
rahim ibu sedang anak angkat tumbuh dalam hati ibu. Itu yang dikatakan
orangtuaku padaku.” Temannya itu terdiam.
Kuharap kisah yang kutuliskan padanya
dapat memberikan pencerahan, seperti juga aku saat pertama kali membacanya.
Hidup
kadang menyenangkan namun juga menakutkan. Aku baru menjalani seperempat abad
hidupku. Aku telah mencicipi empedu dan madu hidup ini. Saat ini sepertinya
empedu yang harus kutelan, rongrongan kawin itu semakin menampakkan wajah
garangnya. Jangan salah sangka. Aku bukan terkatagori wanita yang tidak laku.
Bukan bukan itu. Kalau dilihat dari tampangku, aku termasuk wanita rata-rata
tujuh ke atas. Wajahku menarik bahkan banyak yang menyatakan aku cantik,
apalagi dari laki-laki yang tertarik padaku. Begitu banyak laki-laki yang
singgah dalam hidupku menawarkan cinta semanis madu. Aku cicipi satu-satu
madunya. Ada
yang kuning keemasan sedikit berbau langu, ada yang coklat kental pekat, ada
yang kehitam-hitaman atau sedikit kemerahan. Semua membawa cita rasa
tersendiri. Dan dari sekian banyak laki-laki itu tak ada yang membuatku
berpikir ke arah pernikahan. Tapi aku belajar satu hal, bukan tentang
laki-laki, tentang diriku sendiri sebagai wanita. Sekarang aku tahu cinta
bukanlah seperti hayalanku sewaktu SMA. Cinta itu begitu melambung tinggi ke
nirwana, indah, tak tergapai dan kecewa. Tahulah aku bahwa saat wanita
mencintai laki-laki, dia tidak hanya menyerahkan cintanya tapi juga menyerahkan
kepercayaannya. Sebenarnya cinta bagi seorang wanita adalah kepercayaan. Dan
sekarang cintaku entah di mana harus kuletakkan karena bagiku cinta adalah
kepercayaan, aku tak mau salah meletakkan kepercayaan itu. Dan aku tak mau
terjebak keadaan. Aku tak mau berkolaborasi karena tuntutan yang sama, terpaksa
kawin, baru seminggu kenal, terjepit umur, terdesak tuntutan dan akhirnya
terpojok di pelaminan. Dikiranya apa! Kawin bukanlah sebuah pertunjukan drama
yang selesai sehari. Sebuah pertunjukan drama sendiri pun butuh waktu
berbulan-bulan hanya untuk mempersiapkannya saja.
Menanamkan
persepsi yang baru kepada orang lain rupanya merupakan pekerjaan yang sulit.
Dogma itu berakar erat! Wanita memang ditakdirkan untuk jadi istri dan ibu!
Haruskah?! Jika wanita itu belum juga menikah pasti akan terlontar kata-kata
manis menikam, “ Si itu sudah nikah lo.” “Si ini juga.” “Kamu kapan?”. Di mulut
sih mudah menjawab, may be yes may be
not! Tapi di hati kadang terselip kepedihan jika harus
dibanding-bandingkan, preseden jelek pun muncul sebagai perempuan tak laku!
Dada ini jadi sesak.
Ibuku
tak banyak bicara lagi namun kutahu ia ingin sekali berharap mendapatkan cucu
dariku. Bukankah kehadiran cucu dapat menggairahkan hidup ibuku. Bukankah orang
tua sedapat mungkin menahan putaran waktu. Kehadiran cucu mengembalikan
eksistensi mereka. Aku pun sampai sekarang masih enggan meninggalkan keceriaan
remajaku dan berpaling ke depan tanpa menoleh ke belakang lagi. Selalu saja
kalau bisa aku ingin berputar-putar pada masa itu saja.
Sebenarnya
tidak salah orang tuaku. Kebahagiaan mereka adalah melihatku bahagia.
Berkeluarga layaknya mereka. Semua tak salah. Atau aku yang salah? Aku kembali
pusing. Ada
yang mengata padaku bahwa perkawinan itu layaknya judi. Saat kita dapat kartu bagus
beruntunglah kita maka siallah jika kartunya buruk. Tapi menurutku jika aku
mengenal karakter suamiku baik buruknya sudah kumaklumi dan selalu open mind dan positive thinking pastilah aku mendapatkan kebahagiaan rumah
tangga. Dan akhirnya kreteria ‘suamiku’ itu aku temukan! Laki-laki itu
sederhana, ada jiwa kepemimpinan dalam setiap sikap dan lakunya. Dia bukan
pemimpin yang modelnya perintah sana
perintah sini tapi gayanya begitu persuasif, demokratis. Mungkin karena tempaan
hidupnya yang membuat laki-laki itu lebih tangguh dan dewasa menghadapi
tantangan hidup. Menurutku wajahnya biasa saja. Tinggi badannya pun pas-pasan.
Satu yang kusuka hidungnya. Hidungnya menurutku sangat manis. Tapi aku lebih memuja
bagian ‘dalam’. Menurutku karakter dalam lebih jujur, lugas dan awet, jauh dari
kemunafikan. Sebenarnya laki-laki ini temanku satu LSM, saat tsunami melanda
NAD kami sering bersama tergabung dalam satu kepanitiaan. Jadi tak heran aku
mengenalnya dalam keseharian kami. Semua karakternya, buruk dan bagus, saat dia
memimpin kepanitiaan, cara kerjanya atau saat dia menyanggah atau berpendapat
dalam suatu diskusi atau rapat bulanan kami. Kekagumanku melahirkan cinta.
Cinta kami. Semua tampak sempurna sampai-sampai membutakan mataku pada satu
perbedaan di antara kami. Kami beda agama!
Memang sulit untuk menyadarkan orang yang
sedang mabuk cinta. Setelah pulih masih harus terserang sakit kepala. Lama
waktu yang kuperlukan untuk sadar dan menentukan langkah hidupku. Aku tidak
menyalahkan Tuhan. Kutahu, Tuhan adalah sosok yang paling demokratis. Tak
pernah memaksakan kehendak. Tuhan memberikan alternatif takdir untuk kita.
Bukankah kita yang menentukan? Rupanya kata ‘ya’ dan ‘tidak’ mampu mengubah
begitu banyak nasib. Kita yang menentukan. Semua berasal dari hak independen
kita walaupun itu berasal dari Tuhan. Jadi aku tak akan menyalahkan Tuhan akan
nasibku. Kadang kala kita butuh pil pahit untuk menyembuhkan dan berteman sang
waktu yang memintal balutan untuk luka kita. Hanya saja alangkah lamanya waktu
berjalan, merangkak, merambat, menyakitiku lebih lama, lebih perih dari
sebelumnya. Kiranya aku harus belajar banyak dari hidup. Apa peranku di dunia
ini? Apakah hanya kawin dan membahagiakan ibu? Aku akan picik jika hidupku
hanya untuk itu. Mulai sekarang aku harus menggali, menyelam lebih dalam lagi
berharap aku dapat menemukan mutiara hidup.
Aku adalah seorang wanita.
Kini usiaku sudah merangkak ke tiga puluh tahun, kini aku telah menemukan
pendamping hidup. Aku telah mengukir senyum di wajah ibuku dengan seorang anak
perempuan yang lucu. Aku adalah wanita dan telah menjadi seorang ibu. Aku
menjalani hidup. Arus derasnya akhirnya menghanyutkanku tapi aku sekarang
senang dengan buaian gelombangnya. Kadang kala sengaja aku menyelam ke
kedalaman dasarnya. Penuh selidik untuk menyingkap rahasianya. Tanpa sadar aku
terus mencari hidup....
ALLAH TIDAK MENJANJIKAN....
Bias cahaya berlari di jendela kereta
api kelas bisnis yang kutumpangi. Bersemburat muram, seperti suasana hatiku
saat ini. Kukerjapkan kedua mataku menahan tangis yang sepertinya tak
segan-segan untuk terjun dari kelopak mataku. Ah... sesak ini menghimpit jalan
nafasku.
Malam semakin tua, suara teriakan para
pedagang yang hilir mudik menawarkan
makanan ataupun minuman sudah jarang terdengar. Tinggal gemeretak rel kereta
api yang terdengar terseret-seret namun iramanya yang konstan membuatku agak
tenang. Di luar cahaya lampu rumah-rumah penduduk tampak seperti kunang-kunang.
Bulan berkelana sendiri di balik awan. Tenang dengan kesendiriannya. Sengaja
kubuat otakku sibuk mengembara agar kesedihanku pergi. Aku tak mau
memikirkannya ataupun mengingatnya.
Badanku sangat lelah, begitu juga
hatiku tapi setiap kali kukatupkan mataku, setiap kali juga wajahnya hadir. Wajah
yang masih kucintai namun telah kulepaskan pergi. Bagiku cinta tak bisa dibagi,
harus bulat utuh, eksklusif. Jadi kulepaskan dia. Biarlah dia dengan perempuan
itu. Perempuan yang hadir di tengah-tengah perjalanan cinta kami. Perempuan
yang kukenal dan telah kuanggap adik sendiri. Perempuan yang sedikitpun tak
kusangka kan
mengisi relung hati kekasihku. Bagian mana yang salah? Apa yang salah?
Bagaimana bisa? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghujamku. Mengajakku
bergulat dengan kesedihanku. Teganya dia merebut kekasihku yang jelas-jelas dia
tahu AKU pacarnya! Begitu buta cintanya! Beraninya dia melukai hatiku! Dan kau
kekasihku tercinta, empat tahun rupanya tak cukup mengukuhkan apa yang telah
kita dirajut. Ah... air mata ini tumpah ruah, kupalingkan wajahku menatap
jendela. Gelap di sana
hanya ada rimba. Jendela kereta memantulkan kesedihanku. Wajah itu tak kukenal.
Wajah yang hilang hasrat hidupnya. Kosong seperti zombi. Dengkur penumpang di
sebelahku menyadarkanku, pelan-pelan kuusap pipiku, kuhapus bercak air mataku
di sana.
Apa salahku sampai patah hati ini
kurasakan. Tulus aku mencintainya. Seluruh hatiku utuh-utuh untuknya tak ada
laki-laki lain. Perhatian, rasa cinta, kesetiaan, semua untuknya. Total. Kutak
pernah setengah-setengah tapi tampaknya itu semua tidak cukup. Apa yang salah
Tuhan... ku telah mencintainya dengan tulus.
Kupikir hatiku takkan pernah kosong.
Tapi begitulah yang kurasa saat ini. Hampa. Sakit karena dikhianati, tak
berarti. Hancur. Remuk. Tak mau hidup tapi tak mau juga mati! Aku sekarang
seperti zombi yang tadi kulihat di jendela kereta api kelas bisnis. Zombi,
hidup tapi mati!
Peluit masinis melengking tinggi
mengoyak fajar, sesaat lagi kereta akan sampai di Tanjung Karang. Kusandang tas
ranselku lalu turun dari kereta. Kuberjalan dalam keramaian stasiun menuju
gerbang luar dan menyetop angkot warna biru untuk mengantarku ke Kedaton,
tempat kost yang sudah seminggu
kutinggalkan. Satu minggu yang kupikir akan berisi hari-hari indah dengan
kekasihku di Palembang, namun yang kudapatkan hanya penghianatan!
Masih terbayang keanehan-keanehan itu.
Mata perempuan itu terbakar cemburu saat aku berdua dengan kekasihku yang
rupanya telah menjadi kekasihnya! Saat itu kutak mau memusingkan tingkah aneh
perempuan itu. Waktuku sempit, hanya seminggu, sudah tiga bulan aku tidak bertemu
dengan kekasihkku. Rinduku membuncah butuh disalurkan. Sejak bekerja di
Lampung, aku hanya dapat bertemu tiga bulan sekali dengan kekasihku. Kalau tak
sempat dia yang mengunjungiku. Tapi lama-lama aku juga merasakan keanehan pada
kekasihku. Dia lain. Tak bisa dijelaskan karena tak ada bukti. Namun tak perlu
dukun pintar untuk tahu bahwa aku telah diduakan. Kutantang dia sebagai
laki-laki. Jujur dia mengaku memang berselingkuh! Deg! Jantungku rasanya mau
copot. Ah... wajah itu penuh dengan rasa bersalah. Dan aku langsung mengambil
keputusan. Lebih baik aku saja yang mengalah. Jarak Lampung - Palembang memang telah merenggangkan cinta
kami.
Sakit sekali rasanya dikhianati oleh
orang yang paling kita cintai. Rutinitas sehari-hari menjadi pelarianku untuk
melupakan kesedihanku. Kucari kesibukan, apapun itu yang bisa membantuku untuk
tidak mengingat segala kehampaan, sampai-sampai isi lemariku yang telah rapi
kubongkar untuk disusun ulang. Kubuat tubuhku capek dengan harapan bisa
langsung pulas saat kepalaku bertemu bantal. Sudah seminggu kutak bisa tidur.
Mata ini nyalang tak bisa terpejam. Kenangan yang menyakitkan itu berputar
kembali. Perih kembali mengiris hati.
Aku harus kuat. Aku bisa mengatasi
masalah ini. Bukankah selama ini setiap masalah dapat kupecahkan sendiri. Entah
itu masalah tanggungan keluarga entah itu masalah pekerjaan telah bisa kuatasi
dan pecahkan. Untuk urusan hati inipun aku pasti bisa! Hanya masalah waktu
saja, bukankah itulah pokok persoalannya.
Lama kutatap wajahku di cermin. Mata itu masih kosong. Tak ada daging di pipiku. Wajahku sangat tirus tak bercahaya. Apakah ini orang yang sama yang yakin bahwa masalah hatinya telah terpecahkan? Waktu telah bergulir menjadi enam minggu. Mana itu waktu yang bisa menyembuhkan luka? Di mana kau? Aku sudah tak kuat lagi menanggungnya. Aku sudah pasrah....
Keheningan malam menjadi teman
seperjalananku, bulan tercenung sendiri di atas sana. Langkahku menyusuri trotoar di depan Supermarket
Ramayana. Kubiarkan saja langkahku yang membimbingku. Terus saja kumelangkah
menyusuri jalan. Lalu sayup-sayup kudengar lonceng gereja berdentang. Suaranya
menyeruak masuk ke alam sadarku. Langkahku terhenti. Aneh, pikirku, malam-malam
begini kok ada lonceng gereja, biasanya pukul 6 berbunyi. Seketika aku
tersadar. Bulu kudukku meremang. Tepat di depanku berdiri kokoh sebuah gereja.
Katedral Kristus Raja....
Seperti orang yang baru tersadarkan,
mulutku jadi kelu. Oh Tuhan Yesus,
bagaimana aku bisa lupa.... Engkaulah Kristus Raja yang berjanji akan
menyertaiku sampai kapan pun. Ampunilah kebodohanku dan dosaku, aku terlalu sibuk dengan kesedihanku
sendiri. Terlalu angkuh untuk memohon pertolonganMu. Kupikir aku bisa
menanggungnya. Tuhanku, berhari-hari kulupa akan KehadiranMu dalam hidupku.
Bukankah Tuhan sekarang sedang menggendongku. Tuhan selalu menyertaiku
bagaimanapun keadaanku. Bagaimana bisa aku merasa Tuhan tidak terlibat dalam
hidupku padahal saat ini Tuhan sedang bersamaku tidak hanya menggandengku tapi
kuyakin Tuhan sedang membopongku dalam kasihnya.
Rasa hangat merambat dari pusat hatiku
terus dan terus. Aku merasa damai tentram. Beban hatiku terangkat, dadaku tak
lagi sesak, penuh niat untuk memaafkan mereka. Rasanya plong banget! Puji syukur kupanjatkan dari lubuk hatiku yang paling
dalam. Terima kasih Tuhan, kasihMu sungguh besar. Ku berjanji, dalam setiap
langkahku, Engkaulah Tuhanku yang membimbing aku....
Bagaimana aku bisa lupa, bukankah...
Allah tidak menjanjikan langit akan senantiasa cerah, bunga-bunga sepanjang
hidup kita, matahari tanpa hujan, kesenangan tanpa kesedihan, kesejahteraan
tanpa derita. Bukankah Allah tidak menjanjikan, kita tidak akan mengalami kerja
keras dan pencobaan, kesulitan dan penderitaan. Bukankah... Allah tidak
mengatakan bahwa kita tidak akan merasakan banyak tanggungan berat dan
kekawatiran. Tetapi Allah menjanjikan kekuatan setiap hari, istirahat bagi yang
bekerja, terang di setiap jalan, anugerah di setiap pencobaan, pertolongan dari
atas, simpati yang tidak mengecewakan dan kasih yang tidak berkesudahan. Ia
berjanji Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman....
Hari ini, hatiku diteguhkan olehMu.
Saatku lupa Tuhan, tolong perdengarkan lonceng gerejamu yang indah itu....


Tidak ada komentar:
Posting Komentar