Pages

Minggu, 23 Februari 2014

CERPEN


LUKA CADAS GUNUNG SERELO
gunung serelo

Sebenarnya aku tidak ingin ikut ekspedisi gypsy ini namun sahabatku, Opie selalu mendesakku. Hampir saja aku gila dibuatnya. Semua alasanku mentah disambar argumen-argumennya yang membuatku menyerah. Dan akhirnya aku di sini bergabung dengan teman-temanku, pecinta alam Sriwijaya, sembilan orang jumlahnya.
Ransel yang kubawa kuletakkan tak jauh dari bangkuku. Sengaja tak kuletakkan di bagasi bus karena isinya tak begitu banyak, bisa kuselipkan begitu saja. Aku langsung menghempaskan pantatku ke jok bus sampai bunyinya terdengar oleh Opie. Sorot matanya bertanya padaku. Aku balik membalas dengan lirikan lalu melempar pandanganku ke luar jendela. Dalam hati kurutuki bus yang belum juga jalan-jalan. Aku semakin tegang.
Akhirnya bus pun berjalan pas pukul sembilan pagi. Tubuhku bergetar tanpa bisa ditahan, perasaan takut,cemas dan gundah datang tanpa permisi. Celotehan teman-temanku yang riang memenuhi bus antarkota yang kami naiki, mengajakku untuk melupakan kegundahanku tapi aku tak bisa. Aku tak bisa mengenyahkannya! Perjalanan ini mengingatkanku pada kenangan lima tahun yang lalu….kenangan yang menghantuiku sekian lama….
Untung saja aku duduk dengan Wardana, leader kami. Cowok satu ini tidak usil, tidak juga pendiam. Aku tidak terganggu dengan keberadaannya. Opie benar-benar memikirkan dengan matang bagaimana membuatku nyaman ikut ekspedisi ini.
Bus meninggalkan Palembang dan sekarang melewati Prabumulih. Sepanjang jalan aku hanya memandangi kaca jendela bus. Bayang-bayang pohon dan rumah melintas, membias…. Tak satu kata pun keluar dari mulutku. Aku tegang. Tak kusadari Wardana sedang menatapku, mengawasi dengan sorot matanya yang tajam. Aku semakin gelisah. Kulirik Wardana, sorot matanya telah melembut. Aku mencoba tersenyum padanya tapi kupikir hanya seringai yang tercipta.
“Kau begitu gelisah,” katanya lembut. Aku mengangguk ragu.
“Tapi paling tidak kau telah mencoba untuk menghadapi traumamu. Aku salut padamu.” Aku kembali mengangguk menanggapi perkataan Wardana. Senyumku mengecut.
Benarkah aku berani? Kalau bukan karena Opie mungkin aku takkan pernah lagi menginjakkan kakiku menapaki Gunung Serelo. Sudah lama aku tak mendaki. Yah….sejak peristiwa itu….
Kenangan itupun bergulung-gulung berputar menampilkan kilasan film masa lalu saat aku dan JP berusaha menaklukkan tebing Serelo yang berbentuk jempol itu. Andai saja piton itu tak lepas, mungkin JP masih bersamaku di sini. Tebing Serelo telah menelannya bulat-bulat!
Tanpa sadar satu-satu bening itu gugur dari kelopak mataku. Mengaburkan pandanganku. Wardana mengulurkan tangannya, mengelus punggung tanganku, seolah ingin mengalirkan ketenangan. Aku tetap terisak dalam diam.
“Aku tahu kau bisa mengatasinya. Tapi jika kau perlu seseorang, jangan ragu-ragu memintanya padaku…,” ucap Wardana lembut
Bus telah sampai di Simpang Gajah, start awal kami. Masih sempat kulihat  Wardana menatapku cemas saat satu-satu berloncatan dari bus dengan menyandang carier masing-masing. Aku langsung menghampirinya. “Sepertinya aku memang butuh bantuanmu. Tolong jangan jauh-jauh dariku,” pintaku “Sure… my lady…,” jawabnya riang. Dan keceriaannya sedikit menular padaku.
Jalan menanjak terus, penuh dengan batu-batu. Tersengal-sengal aku menapakinya. Opie ada di depanku. Cariernya sampai menghalangi pandanganku. Dia begitu bersemangat. Semangat….Dulu juga aku seperti itu. Perjalanan mendaki gunung merupakan hal yang selalu kutunggu-tunggu. Membuatku bergairah apalagi jika JP ada bersamaku. Ah… JP…. kenapa sekarang terasa sakit…. Apakah kau masih di sini. Apakah kau tahu apa yang kurasa sekarang…. JP semuanya terasa perih….
Tim pembuka jalur, Qjo dan Ivan sedang membidik puncak Serelo dengan kompasnya untuk menentukan koordinat keberadaan kami dan menentukan arah mana kami harus berjalan.
Saat kupandangi puncak yang berbentuk jempol itu, peluhku menitik di dahi. Dingin!
Teriakan Abas, salah satu anggota tim, menyentak kesadaranku. Koordinat sasaran tembak telah ditemukan 40 derajat. Ekspedisipun dimulai!
Wardana memang selalu tak jauh dariku. Kadang dia membantuku melepaskan jerat tumbuhan rambat yang menghalangi kakiku. Kesigapannya mengingatkanku pada JP, kekasihku….
Bayang-bayang dirinya seketika hadir di otakku. Aku merasa saat ini dia di sisiku. Celotehannya yang riang, tawanya yang bergema di tengah hutan terngiang lagi. Dadaku jadi sesak.
Kulangkahkan kakiku cepat-cepat menjajari Wardana. Opie memandangiku sesaat, kulihat matanya cemas ke arahku. “Tidak apa-apa,” sahutku menenangkannya. Tampaknya Opie meragukan perkataanku itu, namun dia tak berkata apa-apa. Itu yang membuatku lega. Dia memang wise girl.
Empat jam berlalu, suara renyeng mendominasi suasana hutan diselingi gelak tawa teman-temanku yang tak hentinya bercanda. Suara aliran sungai sayup-sayup terdengar. Semakin dekat semakin deras gemuruhnya. Di tengah sungai terdapat pohon tua tumbang yang melintang melawan arus sungai. Sayang ujung pohon itu tidak mencapai tepi sungai, kami tidak dapat menggunakannya sebagai jembatan alam walau di ujung tepi sungai itu ada akar-akar pohon lain yang menjulur seolah-olah ingin menggapai pohon tumbang itu. Untungnya ada satu lagi pohon tumbang yang betul-betul rebah melintangi sungai. Pohon itu akhirnya menjadi jembatan darurat kami.
Kuletakkan ranselku untuk menghemat tenaga. Kutegak beberapa teguk air aqua. Pada kesempatan ini kusempatkan meredakan nafasku yang tersengal-sengal. Langit sudah semburat lembayung, petang datang saat kami satu-satu meniti pohon tumbang berusaha menyeberang sungai pertama yang kami lalui.
Hari mulai menggelap. Wardana memutuskan kami untuk berkemah. Aku, Opie, Utek dan Cici langsung mengeluarkan nesting, parapin serta makanan dan mulai memasak. Aris dan Atuk memasang bivoak untuk tampat kami bermalam. Hari semakin larut, hutan berdesau, sebentar-sebentar terdengar suara binatang malam. Lenguhannya kadang panjang kadang pendek. Dari jauh suara burung hantu menciptakan aroma tersendiri. Perapian masih menyala, apinya seolah berdansa dengan hembusan angin, berderak kayu saat dilalap api, baranya berdesis-desis.
 Mataku nyalang tak bisa terkatup, aku takut tidur walau badanku merintih minta istirahat. Kudengar Abas bersenandung lagu Bon Jovi, Bed of Roses dari walkmannya. Ah…  lagu itu! Lagu yang dulu aku dan JP seringkali nyanyikan. Suasananya persis seperti ini. Ada perapian, dia memetik gitarnya dengan santai, mendendangkan lagu itu. Aku mengaguminya lewat mataku. Aku suka sekali jika ia sedang bernyanyi. Mimik wajahnya penuh penjiwaan. Mata itu tajam tapi jenaka. Hidung itu mengingatkanku pada hidung singa. Mulutnya termasuk lebar cuma unik dan rambutnya gondrong ikal keriting. Kesan cuek, apa adanya itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Sekaligus membuatku susah untuk melupakannya, sampai saat ini. JP….kau dengar….sampai sekarang aku masih mencintaimu, bisikku pelan.
Wardana membangunkanku. Senyumnya mengambang saatku mengerjapkan mata. “Bangun, Neng…sudah siang, kita harus cepat-cepat berbenah untuk melanjutkan perjalanan. Base camp masih jauh. Ayo bangun!”
Kubasuh mukaku dengan air sungai. Kesegarannya mengusir kantukku. Opie melakukan hal yang sama. “Nyenyak tidurmu?” Tanya Opie. “Tidak. Aku mimpi dia lagi semalam. Hanya saja dalam mimpiku ini dia tampak nyata. Dia begitu pucat. Tulang rusuknya begitu terasa waktu kupeluk dia. Aku begitu merasakan kerinduan yang amat sangat darinya. Saat dia lenyap aku merasa kehilangan….”
“Aku tahu,” jawab Opie, “aku mendengar kau terisak sendiri dalam tidurmu. Apa kau selalu bermimpi dia?”
“Ya….hampir setiap malam, entahlah…aku tak tahu mengapa aku selalu bermimpi tentangnya.”
“Mungkin karena kau tak mau melepaskannya dan merelakan kepergiannya,” sahut Opie hati-hati.
“Mungkin…,” desahku.
“Aku tak bermaksud mengguruimu. Kupikir kau tenggelamkan dirimu dalam penyesalan serta kenangan dirimu pada JP. Kupikir dengan perjalanan ini kau mau menghadapi kenyataan pahit itu. Aku memang terlalu memaksamu. Aku ingin kau lepas dari bayang-bayang ini. Aku tak menyuruhmu untuk melupakannya. Tidak! Kenangan itu adalah sebagian perjalanan hidupmu dan tak mungkin hilang. Tapi kau hidup bukan untuk peristiwa yang lalu, kau hidup untuk sekarang dan masa datang! Lis…,kupikir JP pun akan mengatakan hal yang sama….”
“Akan kucoba,” kataku serak.
“Harus begitu! Buah duku buah kedondong, harus dicoba dong…,” seloroh Opie yang memaksaku untuk tertawa.
Sasaran tembak ditentukan, membuka jalur baru lagi, merambah segenap sisi hutan. Sulur-sulur  tumbuhan rambat seperti menyalami kami. Riak air sungai-sungai kecil menyegarkan tubuh kami dengan tingkahnya. Angin menggiring kami menuju tujuan akhir kami, tebing Serelo yang menjulang.
Kekokohannya menggetarkan hatiku. Hitam sewarna besi. Curam mengikis nyali. Aku terpaku memandangnya. Sanggupkah aku menapakinya lagi setelah lima tahun berlalu. Dulu langkahku riang menapakinya. Kini kepiluan dan kepedihan menggelantung erat di kedua kakiku.
Senja kembali menyambut kami saat tiba di base camp. Keadaannya masih sama seperti dulu, di dalamnya ada perapian kecil sederhana. Dindingnya adalah anyaman bambu penuh lubang-lubang, tempat keluar masuk hawa pegunungan Lahat yang dingin.
Teman-temanku begitu antusias untuk mendaki Kedaton Satu, punggung Serelo dan langsung menuju Kedaton Dua yang lebih terjal keesokan harinya di pagi hari, sedang aku terpuruk sendiri.
“Kau naik besok?” tanya Wardana hati-hati.
“Entahlah….” Jawabku gugup
“Serelo tampak cantik di pagi hari…., sayang kalau tak dinikmati. Kalau naik ajak aku menemanimu.”
“Tentu siapa lagi,” jawabku tanpa sadar hingga memunculkan sebuah senyuman di wajah Wardana yang aku sendiri tak berani menebak artinya.
Kuingat sekali, Serelo tampak cantik di waktu pagi. Awan-awan mengepunginya, hingga kita merasa di negeri awan. Hembusan anginnya sejuk membuai kita, menggoda kita untuk memasukkannya penuh-penuh ke paru-paru kita. Langit birunya melengkung bersih. Lalu semburat sinar matahari yang malu-malu muncul di garis horizon seketika meledak dengan cahaya putih yang kaya. Jika mata kita berpendar, berdiri tegak gugusan bukit-bukit lain. Hitam membiru kontras dengan kehijauan pohon. Saat awan tersibak tampak lekuk tubuh sungai Lematang yang berkilauan ditimpa sinar keemasan mentari. Serelo memang cantik di pagi hari dan JP menikmatinya setiap hari, berada dalam pelukan alam yang lestari….
***
Sebuah elusan tangan menjalar  di pipiku. Lembut dan begitu akrab. Kubenamkan kepalaku pada seluruh tangannya. Aku begitu merindukannya. Kurasakan tangan itu mengangkat tubuhku, membawaku ke dalam rangkulannya. Hidungku mencium kembali aroma tubuh yang kukenal yang telah menyatu denganku.
“Lis….rindukah kau padaku?” tanyanya. Aku mengangguk tanpa membuka mata. “Kau tahu aku selalu mengingatmu. Tak bisa melupakanmu,” jawabku lirih
“Aku pun begitu, aku selalu berharap kau datang. Lama sekali kau datang,” desahnya kecewa.
“Aku tidak tahu kau menungguku. Tapi tidakkah kau senang aku telah datang?”
“Yah…aku senang akhirnya kau datang. Aku sangat menantikannya, memelukmu seperti ini hingga kau merasa tentram, tidak bimbang, tidak bersedih karena aku. Aku ingin kau bahagia menjalani hidup ini. Jangan cemaskan aku. Aku ada dalam dirimu. Kau percaya?”
“Aku percaya. Peluk saja aku,” desahku.
Tangan itu mengelusku dengan sayang. Pelukannya semakin erat. Aku aman. Aku hangat. Sampai suatu suara mengusikku….
Samar-samar namaku disebut berulang-ulang di telingaku. Dengan enggan kubuka mataku. Di depanku telah ada Wardana yang berjongkok memeluk pinggangku. Harness menyelubungi tubuhnya. Aku tersentak!
“Jangan bergerak dulu, tebing ini labil,” ucapnya tenang. Mataku langsung berserobak ke sekelilingku. Kanan kiri jurang! Aku terpekik dan langsung memegang Wardana erat-erat.
“Ini tempat jenazah JP ditemukan,” kataku parau.
“Aku tahu….” Jawab Wardana sabar. “Berpeganglah erat padaku, kita akan ditarik ke atas.”
Aku langsung menuruti perintah Wardana. Saat tali telah ditarik, aku memejamkan mata, namun sinar kuning menyilaukanku. Sinar itu datang dari gelang tembaga ukiran ornamen emas yang melingkar di lenganku. Sisi dalamnya tertulis ‘kuukirkan namamu dalam gaung Serelo’. Sebuah gelang milik JP yang selalu melekat pada lengannya.

Untuk Tim Ekspedisi ‘Gypsy Crazy’ Serelo   


































LALU ARUS ITU MENYERETKU....


Aku adalah seorang wanita, umurku belum genap 27 tahun. Aku lahir dalam naungan bintang virgo yang menurut para ahli astrologi, aku adalah seorang yang sangat romantis, perfeksionis, kritis, pemikir serta kadang kala melankolis. Namun, kupikir bukanlah naungan zodiak itu yang membentuk karakterku, tetapi kesan-kesan saat  aku kecil yang tertangkap dalam kaledoskop otakku. Kesan-kesan mendalam itulah yang membentuk karakterku. Saat dewasa, kita memang berlaku fleksibel namun bukankah kita selalu saja menoleh ke belakang pada memori kecil kita yang telah menjadi semacam jatidiri, pondasi pribadi kita. Sadar tidak sadar kita akan selalu menilik dari apa yang kita rasa, kita tangkap dengan telinga, kita lihat dengan dua bola mata serta dengan hati yang lebih peka, lebih polos, lebih suci dibanding saat kita dewasa. Mungkin karena kemurnian itulah yang mengkristalkan prilaku kita selanjutnya.
Aku seorang wanita, umurku belum genap 27 tahun. Aku bekerja di sebuah butik yang cukup terkenal di ibukota. Karier yang memang kukuasai berkat talenta dan kegigihanku. Aku puas dengan apa yang telah kucapai karena baru kali ini aku merasa lepas dari alur kehidupan yang memaksaku untuk melakukannya tanpa bertanya dulu padaku apakah aku MAU dan bisa menjalaninya. Karena menurut mereka, semua itu ‘BAIK’. Lalu arus itu menyeretku, tahu-tahu aku telah sekolah. TK,SD, SMP, SMA lalu kuliah akhirnya kerja. Setelah itu....kawin!
Apakah memang seperti ini alur kehidupan? Apakah aku harus kembali terjebak  dengan ‘skenario ideal’ bahwa ‘BAIK’ jika kita, para wanita yang umurnya sudah kedaluarsa ini cepat-cepat mendapatkan suami. Masih kuingat suara ibuku di telepon yang begitu berharap aku cepat-cepat kawin, punya suami dan membentuk keluarga baru. Telepon itu kuterima dua hari yang lalu namun suara ibuku masih bergaung keras di telingaku....
“ Piye, Ndok? Sudah dipikir belum? Kenapa sih...kok mesti lama-lama. Opo sih yang dicari. Umur sudah pas. Kerja sudah ada. Tunggu apalagi toh....”
“ Ah.... Ibu. Nisa belum berpikir sejauh itu, Bu. Ibu sabar aja deh. Nisa masih harus menentukan yang terbaik bagi Nisa. Ibu tentu ingin Nisa bahagia khan.... Nisa  ngak ingin salah langkah, Bu.”  
            “ Iya ibu ngerti, Ndok. Cuma mbok yo inget umurmu itu kalau sudah tiga puluh nanti susah cari suami. Susah punya anak. Nanti kamu sendiri yang menyesal.”
            “ Iya deh Bu, Nisa ngerti.... doakan aja Nisa cepet dapet jodoh.”    
            “ Lho, apa Mas Bayu nggak berpikir ke hubungan yang serius?”
            “ Malah dia yang selalu merongrong Nisa, Bu”
            “ La!  Kalau gitu tunggu apalagi!”
            “ Entahlah, Bu. Nisa masih ragu.”
            “Jadi untuk apa hubunganmu selama ini?”
            “ Ah... Ibu, masa pacaran ukurannya langsung ke pernikahan. Kasihan dong yang ngak pacaran jadi ngak kawin kawin....” selorohku penuh canda.
            “ Yah terserah kamulah, Ndok. Ibu Cuma mengingatkan saja. Semua memang kamu yang menentukan karena kamu yang akan menjalani semua ini nantinya.”
            “ Iya, Bu.”
            “ Yo wes.” Ibuku menutup pembicaraan kami.
            Haruskah aku kembali secara sadar terjun lagi dalam alur kehidupan seperti yang berlaku pada setiap orang di muka bumi ini. Kalau dulu aku tidak tahu apa-apa, sekarang aku telah dewasa. Tentu aku sadar akan pilihan yang disodorkan ibuku.
            Kawin. Cuma lima huruf tapi begitu rumit. Mengusutkan neuron-neuron di batok kepalaku. Bagaimana membuat mereka mengerti aku tak mau lagi terseret, aku tak mau lagi melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan. Aku wanita normal. Aku ingin punya suami, punya anak namun aku tak mau di bawah ‘todongan’ baik oleh keluargaku,ataupun oleh keadaan. Bukan aku tidak menghargai ikatan perkawinan. Bukan...., aku malah menjunjung tinggi, karena bagiku kawin bukan hanya urusan aku dengan laki-laki yang kucintai tapi lebih dari itu. Dua keluarga yang kawin, dua tradisi, dua tata cara, dua kebiasaan.
            Jika kupikirkan hal itu walaupun secara sadar, aku tetap saja, rupanya terjun bebas pada alur yang ditetapkan manusia untuk dijalani oleh manusia.
            Setelah kawin lalu apa? Sederhana jawabannya yaitu anak! Kudengar cerita temanku yang telah menikah lima tahun yang lalu. Dia berkeluh kesah padaku, bagaimana sakit hatinya saat orang-orang menanyakan kapan dia mau punya anak. Kok belum punya juga padahal sudah lima tahun kawin. Dia bercerita padaku bagaimana ia dan suaminya berupaya ke dokter spesialis bahkan ke orang pintar agar dapat mempunyai anak kandung sendiri. Itulah.... kadang secara tidak sadar, alur yang diciptakan sebenarnya menimbulkan penderita,juga belenggu. Kita harus berjuang keras menyamai standar yang paling ideal, sekalipun itu menyakitkan seperti temanku itu, ia berjuang keras memenuhi ‘tuntutan ideal’ bahwa orang kalau sudah kawin harus punya anak. Kalau tidak juga dikaruniai seorang anak maka kata kata cemooh berselimut senyum dan canda terlontar dari mulut-mulut berbisa hingga menghujam ke relung terdalam, sulit tercabut dan selalu mengganggu saat tidur maupun bangun. Kasihan temanku itu dan kasihan untuk diriku sendiri karena todongan kawin itu telah menampakkan larasnya di keningku. Aku merasa dipaksa menerima tongkat estafet yang tidak kukehendaki sebagai awal penderitaanku. Terus terang aku takut bernasib sama seperti temanku itu. Aku berharap mempunyai keberaniaan untuk menghadapinya.
            Tak lama kemudian kudengar dia mengadopsi anak. Syukurlah! Ia bisa mengatasi masalahnya. Aku turut senang, karenanya kutulis surat untuknya. Kuhibur dia dengan cerita tentang anak adopsi. Aku pernah membacanya tapi aku lupa judul buku itu. Isi ceritanya begitu menggugahku. Cerita itu dimulai dari seorang anak yang datang ke rumah temannya untuk belajar bersama. Di ruang tamu dia melihat ada satu anak yang baik warna kulit, rambutnya dan bentuk badannya lain sendiri dari seluruh anggota keluarga yang lain. Hal itu mengusik hatinya. Begitu temannya kembali dengan segelas air lemon untuknya, anak itu langsung menanyakan hal itu. Anak yang ditanya itu menjawab dengan tenang,      “ Dia adik angkatku.” Dan anak itu langsung menambahkan begitu dilihatnya wajah cemooh yang terpancar dari wajah temannya. “ Tahukah kau perbedaan antara anak angkat dengan anak kandung?” Temannya itu menggeleng. “ Kuberi tahu ya, anak kandung tumbuh dalam rahim ibu sedang anak angkat tumbuh dalam hati ibu. Itu yang dikatakan orangtuaku padaku.” Temannya itu terdiam.
Kuharap kisah yang kutuliskan padanya dapat memberikan pencerahan, seperti juga aku saat pertama kali membacanya.
            Hidup kadang menyenangkan namun juga menakutkan. Aku baru menjalani seperempat abad hidupku. Aku telah mencicipi empedu dan madu hidup ini. Saat ini sepertinya empedu yang harus kutelan, rongrongan kawin itu semakin menampakkan wajah garangnya. Jangan salah sangka. Aku bukan terkatagori wanita yang tidak laku. Bukan bukan itu. Kalau dilihat dari tampangku, aku termasuk wanita rata-rata tujuh ke atas. Wajahku menarik bahkan banyak yang menyatakan aku cantik, apalagi dari laki-laki yang tertarik padaku. Begitu banyak laki-laki yang singgah dalam hidupku menawarkan cinta semanis madu. Aku cicipi satu-satu madunya. Ada yang kuning keemasan sedikit berbau langu, ada yang coklat kental pekat, ada yang kehitam-hitaman atau sedikit kemerahan. Semua membawa cita rasa tersendiri. Dan dari sekian banyak laki-laki itu tak ada yang membuatku berpikir ke arah pernikahan. Tapi aku belajar satu hal, bukan tentang laki-laki, tentang diriku sendiri sebagai wanita. Sekarang aku tahu cinta bukanlah seperti hayalanku sewaktu SMA. Cinta itu begitu melambung tinggi ke nirwana, indah, tak tergapai dan kecewa. Tahulah aku bahwa saat wanita mencintai laki-laki, dia tidak hanya menyerahkan cintanya tapi juga menyerahkan kepercayaannya. Sebenarnya cinta bagi seorang wanita adalah kepercayaan. Dan sekarang cintaku entah di mana harus kuletakkan karena bagiku cinta adalah kepercayaan, aku tak mau salah meletakkan kepercayaan itu. Dan aku tak mau terjebak keadaan. Aku tak mau berkolaborasi karena tuntutan yang sama, terpaksa kawin, baru seminggu kenal, terjepit umur, terdesak tuntutan dan akhirnya terpojok di pelaminan. Dikiranya apa! Kawin bukanlah sebuah pertunjukan drama yang selesai sehari. Sebuah pertunjukan drama sendiri pun butuh waktu berbulan-bulan hanya untuk mempersiapkannya saja.
            Menanamkan persepsi yang baru kepada orang lain rupanya merupakan pekerjaan yang sulit. Dogma itu berakar erat! Wanita memang ditakdirkan untuk jadi istri dan ibu! Haruskah?! Jika wanita itu belum juga menikah pasti akan terlontar kata-kata manis menikam, “ Si itu sudah nikah lo.” “Si ini juga.” “Kamu kapan?”. Di mulut sih mudah menjawab, may be yes may be not! Tapi di hati kadang terselip kepedihan jika harus dibanding-bandingkan, preseden jelek pun muncul sebagai perempuan tak laku! Dada ini jadi sesak.
            Ibuku tak banyak bicara lagi namun kutahu ia ingin sekali berharap mendapatkan cucu dariku. Bukankah kehadiran cucu dapat menggairahkan hidup ibuku. Bukankah orang tua sedapat mungkin menahan putaran waktu. Kehadiran cucu mengembalikan eksistensi mereka. Aku pun sampai sekarang masih enggan meninggalkan keceriaan remajaku dan berpaling ke depan tanpa menoleh ke belakang lagi. Selalu saja kalau bisa aku ingin berputar-putar pada masa itu saja.
            Sebenarnya tidak salah orang tuaku. Kebahagiaan mereka adalah melihatku bahagia. Berkeluarga layaknya mereka. Semua tak salah. Atau aku yang salah? Aku kembali pusing. Ada yang mengata padaku bahwa perkawinan itu layaknya judi. Saat kita dapat kartu bagus beruntunglah kita maka siallah jika kartunya buruk. Tapi menurutku jika aku mengenal karakter suamiku baik buruknya sudah kumaklumi dan selalu open mind dan positive thinking pastilah aku mendapatkan kebahagiaan rumah tangga. Dan akhirnya kreteria ‘suamiku’ itu aku temukan! Laki-laki itu sederhana, ada jiwa kepemimpinan dalam setiap sikap dan lakunya. Dia bukan pemimpin yang modelnya perintah sana perintah sini tapi gayanya begitu persuasif, demokratis. Mungkin karena tempaan hidupnya yang membuat laki-laki itu lebih tangguh dan dewasa menghadapi tantangan hidup. Menurutku wajahnya biasa saja. Tinggi badannya pun pas-pasan. Satu yang kusuka hidungnya. Hidungnya menurutku sangat manis. Tapi aku lebih memuja bagian ‘dalam’. Menurutku karakter dalam lebih jujur, lugas dan awet, jauh dari kemunafikan. Sebenarnya laki-laki ini temanku satu LSM, saat tsunami melanda NAD kami sering bersama tergabung dalam satu kepanitiaan. Jadi tak heran aku mengenalnya dalam keseharian kami. Semua karakternya, buruk dan bagus, saat dia memimpin kepanitiaan, cara kerjanya atau saat dia menyanggah atau berpendapat dalam suatu diskusi atau rapat bulanan kami. Kekagumanku melahirkan cinta. Cinta kami. Semua tampak sempurna sampai-sampai membutakan mataku pada satu perbedaan di antara kami. Kami beda agama!
 Memang sulit untuk menyadarkan orang yang sedang mabuk cinta. Setelah pulih masih harus terserang sakit kepala. Lama waktu yang kuperlukan untuk sadar dan menentukan langkah hidupku. Aku tidak menyalahkan Tuhan. Kutahu, Tuhan adalah sosok yang paling demokratis. Tak pernah memaksakan kehendak. Tuhan memberikan alternatif takdir untuk kita. Bukankah kita yang menentukan? Rupanya kata ‘ya’ dan ‘tidak’ mampu mengubah begitu banyak nasib. Kita yang menentukan. Semua berasal dari hak independen kita walaupun itu berasal dari Tuhan. Jadi aku tak akan menyalahkan Tuhan akan nasibku. Kadang kala kita butuh pil pahit untuk menyembuhkan dan berteman sang waktu yang memintal balutan untuk luka kita. Hanya saja alangkah lamanya waktu berjalan, merangkak, merambat, menyakitiku lebih lama, lebih perih dari sebelumnya. Kiranya aku harus belajar banyak dari hidup. Apa peranku di dunia ini? Apakah hanya kawin dan membahagiakan ibu? Aku akan picik jika hidupku hanya untuk itu. Mulai sekarang aku harus menggali, menyelam lebih dalam lagi berharap aku dapat menemukan mutiara hidup.
Aku adalah seorang wanita. Kini usiaku sudah merangkak ke tiga puluh tahun, kini aku telah menemukan pendamping hidup. Aku telah mengukir senyum di wajah ibuku dengan seorang anak perempuan yang lucu. Aku adalah wanita dan telah menjadi seorang ibu. Aku menjalani hidup. Arus derasnya akhirnya menghanyutkanku tapi aku sekarang senang dengan buaian gelombangnya. Kadang kala sengaja aku menyelam ke kedalaman dasarnya. Penuh selidik untuk menyingkap rahasianya. Tanpa sadar aku terus mencari hidup....
ALLAH TIDAK MENJANJIKAN....

Bias cahaya berlari di jendela kereta api kelas bisnis yang kutumpangi. Bersemburat muram, seperti suasana hatiku saat ini. Kukerjapkan kedua mataku menahan tangis yang sepertinya tak segan-segan untuk terjun dari kelopak mataku. Ah... sesak ini menghimpit jalan nafasku.
Malam semakin tua, suara teriakan para pedagang yang hilir mudik  menawarkan makanan ataupun minuman sudah jarang terdengar. Tinggal gemeretak rel kereta api yang terdengar terseret-seret namun iramanya yang konstan membuatku agak tenang. Di luar cahaya lampu rumah-rumah penduduk tampak seperti kunang-kunang. Bulan berkelana sendiri di balik awan. Tenang dengan kesendiriannya. Sengaja kubuat otakku sibuk mengembara agar kesedihanku pergi. Aku tak mau memikirkannya ataupun mengingatnya.
Badanku sangat lelah, begitu juga hatiku tapi setiap kali kukatupkan mataku, setiap kali juga wajahnya hadir. Wajah yang masih kucintai namun telah kulepaskan pergi. Bagiku cinta tak bisa dibagi, harus bulat utuh, eksklusif. Jadi kulepaskan dia. Biarlah dia dengan perempuan itu. Perempuan yang hadir di tengah-tengah perjalanan cinta kami. Perempuan yang kukenal dan telah kuanggap adik sendiri. Perempuan yang sedikitpun tak kusangka kan mengisi relung hati kekasihku. Bagian mana yang salah? Apa yang salah? Bagaimana bisa? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghujamku. Mengajakku bergulat dengan kesedihanku. Teganya dia merebut kekasihku yang jelas-jelas dia tahu AKU pacarnya! Begitu buta cintanya! Beraninya dia melukai hatiku! Dan kau kekasihku tercinta, empat tahun rupanya tak cukup mengukuhkan apa yang telah kita dirajut. Ah... air mata ini tumpah ruah, kupalingkan wajahku menatap jendela. Gelap di sana hanya ada rimba. Jendela kereta memantulkan kesedihanku. Wajah itu tak kukenal. Wajah yang hilang hasrat hidupnya. Kosong seperti zombi. Dengkur penumpang di sebelahku menyadarkanku, pelan-pelan kuusap pipiku, kuhapus bercak air mataku di sana. 
Apa salahku sampai patah hati ini kurasakan. Tulus aku mencintainya. Seluruh hatiku utuh-utuh untuknya tak ada laki-laki lain. Perhatian, rasa cinta, kesetiaan, semua untuknya. Total. Kutak pernah setengah-setengah tapi tampaknya itu semua tidak cukup. Apa yang salah Tuhan... ku telah mencintainya dengan tulus.
Kupikir hatiku takkan pernah kosong. Tapi begitulah yang kurasa saat ini. Hampa. Sakit karena dikhianati, tak berarti. Hancur. Remuk. Tak mau hidup tapi tak mau juga mati! Aku sekarang seperti zombi yang tadi kulihat di jendela kereta api kelas bisnis. Zombi, hidup tapi mati!
Peluit masinis melengking tinggi mengoyak fajar, sesaat lagi kereta akan sampai di Tanjung Karang. Kusandang tas ranselku lalu turun dari kereta. Kuberjalan dalam keramaian stasiun menuju gerbang luar dan menyetop angkot warna biru untuk mengantarku ke Kedaton, tempat kost yang sudah seminggu kutinggalkan. Satu minggu yang kupikir akan berisi hari-hari indah dengan kekasihku di Palembang, namun yang kudapatkan hanya penghianatan!
Masih terbayang keanehan-keanehan itu. Mata perempuan itu terbakar cemburu saat aku berdua dengan kekasihku yang rupanya telah menjadi kekasihnya! Saat itu kutak mau memusingkan tingkah aneh perempuan itu. Waktuku sempit, hanya seminggu, sudah tiga bulan aku tidak bertemu dengan kekasihkku. Rinduku membuncah butuh disalurkan. Sejak bekerja di Lampung, aku hanya dapat bertemu tiga bulan sekali dengan kekasihku. Kalau tak sempat dia yang mengunjungiku. Tapi lama-lama aku juga merasakan keanehan pada kekasihku. Dia lain. Tak bisa dijelaskan karena tak ada bukti. Namun tak perlu dukun pintar untuk tahu bahwa aku telah diduakan. Kutantang dia sebagai laki-laki. Jujur dia mengaku memang berselingkuh! Deg! Jantungku rasanya mau copot. Ah... wajah itu penuh dengan rasa bersalah. Dan aku langsung mengambil keputusan. Lebih baik aku saja yang mengalah. Jarak Lampung - Palembang memang telah merenggangkan cinta kami.
Sakit sekali rasanya dikhianati oleh orang yang paling kita cintai. Rutinitas sehari-hari menjadi pelarianku untuk melupakan kesedihanku. Kucari kesibukan, apapun itu yang bisa membantuku untuk tidak mengingat segala kehampaan, sampai-sampai isi lemariku yang telah rapi kubongkar untuk disusun ulang. Kubuat tubuhku capek dengan harapan bisa langsung pulas saat kepalaku bertemu bantal. Sudah seminggu kutak bisa tidur. Mata ini nyalang tak bisa terpejam. Kenangan yang menyakitkan itu berputar kembali. Perih kembali mengiris hati.
Aku harus kuat. Aku bisa mengatasi masalah ini. Bukankah selama ini setiap masalah dapat kupecahkan sendiri. Entah itu masalah tanggungan keluarga entah itu masalah pekerjaan telah bisa kuatasi dan pecahkan. Untuk urusan hati inipun aku pasti bisa! Hanya masalah waktu saja, bukankah itulah pokok persoalannya.

Lama kutatap wajahku di cermin. Mata itu masih kosong. Tak ada daging di pipiku. Wajahku sangat tirus tak bercahaya. Apakah ini orang yang sama yang yakin bahwa masalah hatinya telah terpecahkan? Waktu telah bergulir menjadi enam minggu. Mana itu waktu yang bisa menyembuhkan luka? Di mana kau?  Aku sudah tak kuat lagi menanggungnya. Aku sudah pasrah....
Keheningan malam menjadi teman seperjalananku, bulan tercenung sendiri di atas sana. Langkahku menyusuri trotoar di depan Supermarket Ramayana. Kubiarkan saja langkahku yang membimbingku. Terus saja kumelangkah menyusuri jalan. Lalu sayup-sayup kudengar lonceng gereja berdentang. Suaranya menyeruak masuk ke alam sadarku. Langkahku terhenti. Aneh, pikirku, malam-malam begini kok ada lonceng gereja, biasanya pukul 6 berbunyi. Seketika aku tersadar. Bulu kudukku meremang. Tepat di depanku berdiri kokoh sebuah gereja. Katedral Kristus Raja....
Seperti orang yang baru tersadarkan, mulutku jadi kelu. Oh Tuhan Yesus,  bagaimana aku bisa lupa.... Engkaulah Kristus Raja yang berjanji akan menyertaiku sampai kapan pun. Ampunilah kebodohanku dan  dosaku, aku terlalu sibuk dengan kesedihanku sendiri. Terlalu angkuh untuk memohon pertolonganMu. Kupikir aku bisa menanggungnya. Tuhanku, berhari-hari kulupa akan KehadiranMu dalam hidupku. Bukankah Tuhan sekarang sedang menggendongku. Tuhan selalu menyertaiku bagaimanapun keadaanku. Bagaimana bisa aku merasa Tuhan tidak terlibat dalam hidupku padahal saat ini Tuhan sedang bersamaku tidak hanya menggandengku tapi kuyakin Tuhan sedang membopongku dalam kasihnya.
Rasa hangat merambat dari pusat hatiku terus dan terus. Aku merasa damai tentram. Beban hatiku terangkat, dadaku tak lagi sesak, penuh niat untuk memaafkan mereka. Rasanya plong banget! Puji syukur kupanjatkan dari lubuk hatiku yang paling dalam. Terima kasih Tuhan, kasihMu sungguh besar. Ku berjanji, dalam setiap langkahku, Engkaulah Tuhanku yang membimbing aku....
Bagaimana aku bisa lupa, bukankah... Allah tidak menjanjikan langit akan senantiasa cerah, bunga-bunga sepanjang hidup kita, matahari tanpa hujan, kesenangan tanpa kesedihan, kesejahteraan tanpa derita. Bukankah Allah tidak menjanjikan, kita tidak akan mengalami kerja keras dan pencobaan, kesulitan dan penderitaan. Bukankah... Allah tidak mengatakan bahwa kita tidak akan merasakan banyak tanggungan berat dan kekawatiran. Tetapi Allah menjanjikan kekuatan setiap hari, istirahat bagi yang bekerja, terang di setiap jalan, anugerah di setiap pencobaan, pertolongan dari atas, simpati yang tidak mengecewakan dan kasih yang tidak berkesudahan. Ia berjanji Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman....
Hari ini, hatiku diteguhkan olehMu. Saatku lupa Tuhan, tolong perdengarkan lonceng gerejamu yang indah itu....


                                                            

Tidak ada komentar: