KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT , berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat
menyusun makalah dari tugas Sejarah dengan judul “ Proses Interaksi antara
Tradisi Lokal dan Islam di Banten yaitu Kebudayaan Debus di Banten “ dapat
terselesaikan tepat waktu .
Kami sadari bahwa dalam
makalah ini masih banyak terdapat kekurangan da kelemahanya , baik dalam isi
maupun penulisan . Oleh sebab itu , kami sangat mengharapkan kritik dan saran
yang sifatnya membangun agar bias memperbaiki penulisan-penulisan makalah yang
akan datang .
Tuban, 09 Mei 2015
Chrisna Adhitya Pamungkas
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar
istilah Islam dan budaya. Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau
keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai
utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di manapun dan
kapanpun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Sedangkan budaya adalah suatu cara hidup yang
berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari
generasi ke generasi. Kedua istilah itu
berbeda, tetapi dua kata tersebut saling berkaitan.
Pengaruh kebudayaan Islam di Jawa telah berakulturasi dan
berasimilasi menjadi suatu kebudayaan baru dalam kehidupan masyarakat Jawa. Banyak orang yang bingung untuk membedakan antara budaya dan agama, karenanya perpaduan budaya Islam dengan budaya Jawa sangat akrab dikalangan
orang Jawa. Dikalangan orang Jawa
sering memadukan budaya lokal mereka ke dalam ajaran keIslaman. Dalam hal ini, Ruslan
Abdulgani (1983:20) berkomentar bahwa Islam datang ke Indonesia tidak dalam
keadaan vakum kultural/peradaban, karena di situ sudah ada kerajaan besar baik
kerajaan Hindu maupun kerajaan Budha. Oleh karena itu, wajarlah jika terjadi
akulturasi dalam bidang budaya dan sinkretisasi dalam bidang akidah, dan
hal-hal tertentu dalam kehidupan masyarakat Jawa. Mengenai budaya apa saja yang sudah diakulturasikan ke
dalam ajaran Islam, untuk itu makalah ini akan membahas masalah tersebut secara
lebih rinci dan mendalam.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian akulturasi Islam dan budaya?
2.
Bagaimana akulturasi dalam bidang teologi?
3.
Bagaimana akulturasi dalam bidang tasawuf?
4.
Bagaimana akulturasi dalam bidang kosmologi?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian akulturasi Islam dan budaya.
2. Memahami akulturasi dalam bidang teologi.
3. Memahami akulturasi dalam bidang tasawuf.
4. Memahami akulturasi dalam bidang kosmologi.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Akulturasi Islam dan Budaya Jawa
Akulturasi menurut kamus
Antropologi adalah pengembalian atau penerimaan satu atau beberapa unsur
kebudayaan yang saling berhubungan atau saling bertemu. Konsep ini terjadi
dengan munculnya kebudayaan asing yang dihadapkan pada satu kelompok manusia
dengan kebudayaan tertentu sehingga lambat laun kebudayaan asing tersebut
diterima oleh suatu kebudayaan satu kelompok tersebut.
Dalam konsep tersebut Islam
diposisikan sebagai kebudayaan asing dan masyarakat lokal sebagai penerima
kabudayaan asing tersebut. Misalnya masyarakat Jawa yang memiliki tradisi
“slametan” yang cukup kuat, ketika Islam datang maka tradisi tersebut tetap
berjalan dengan mengambil unsur-unsur Islam terutama dalam doa-doa yang dibaca.
Wadah slametannya tetap ada, tetapi isinya mengambil ajaran Islam.
Menurut Koentjaraningrat
(1981), terdapat lima hal dalam proses akulturasi:
1. Keadaan masyarakat penerima,
sebelum proses akulturasi mulai berjalan;
2. Individu-individu yang membawa
unsur kebudayaan asing itu;
3. Saluran-saluran yang dipakai
oleh unsur kebudayaan asing untuk masuk ke kebudayaan asing tadi;
Sebelum agama Islam masuk ke Pulau Jawa, raja-raja Jawa
sudah biasa melakukan upacara. Salah satu upacara yang dilaksanakan oleh
raja-raja Jawa adalah upacara sedekah raja kepada rakyatnya. Upacara raja ini
disebut raja wedha atau raja medha. Raja wedha berarti kitab suci raja. Karena raja-raja Jawa beragama
Hindu, maka kitab sucinya adalah Wedha. Raja medha berarti hewan kurban raja yang diberikan kepada rakyatnya.
Biasanya dilakukan untuk menyambut tahun baru. Pelaksanaannya dipilih hari
Selasa Kliwon atau anggara kasih.[2][2]
Dalam upacara tersebut yang
terpenting adalah upacara makan bersama, yang biasa dikenal dengan slametan (ngoko) atau wilujengan (krami). Berbagai upacara
keagamaan yang dilakukan dengan slametan,
oleh orang Jawa dilakukan pada upacara yang terkait dengan hari-hari besar
Islam. Hal yang sangat penting adalah berbagai perilaku keramat, seperti puasa (siyam), tirakat, atau mengendalikan
diri dan dengan sengaja melakukan atau mencari kesukaran, bertapa (tapabrata), dan bersemedi.
Selain itu, terdapat salah
satu temuan studi Muhadjirin Thohir terhadap masyarakat desa Sukodono dan
Senenan, Jepara, menunjukkan adanya satu tindakan ritual (Islam dan Tradisi
Jawa) yang dikaitkan dengan aktifitas ekonomi seperti yang juga nampak dalam
upacara Slametan, yang disebut Rasulan.[3][3]
Untuk memulai usaha baru,
masyarakat di sana lebih dulu mencari petung hari, tanggal, dan pasaran secara
tepat, menziarahi makam orang tua, wali, dan leluhur desa. Kemudian melakukan
selamatan membuka usaha atau selamatan Rasulan.
2. Akulturasi Dalam Bidang Teologi
Istilah teologi, dalam bahasa
Yunani adalah “theologia”. Istilah yang berasal dari gabungan dua kata “theos,
Allah” dan “logos, logika”. Arti dasarnya adalah suatu catatan atau wacana
tentang, para dewa atau Allah. Bagi beberapa orang Yunani, syair-syair seperti
karya Homer dan Hesiod disebut “theologoi”. Syair mereka yang menceritakan
tentang para dewa yang dikategorikan oleh para penulis aliran Stoa (Stoic) ke
dalam “teologi mistis”. Aliran pemikiran Stois yang didirikan oleh Zeno
(kira-kira 335-263 SM.) memiliki pandangan
“teologi natural atau rasional”, yang disebut oleh Aristoteles, dengan istilah
“filsafat teologi”, sebutan yang merujuk kepada filsafat teologi secara umum
atau metafisika.
Teologi adalah pengetahuan
metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan berdasarkan iman.
Secara sederhana, iman dapat didefinisikan sebagai sikap manusia dihadapan
Allah, Yang Mutlak dan Yang Kudus, yang diakui sebagai sumber segala kehidupan di alam semesta ini. Iman itu ada dalam diri
seseorang antara lain melalui pendidikan (misalnya oleh orang tua), tetapi
dapat juga melalui usaha sendiri, misalnya dengan cermat merenungkan hidupnya
di hadapan Sang pemberi hidup itu. Dalam hal ini Allah dimengerti sebagai realitas yang paling mengagumkan dan mendebarkan. Tentulah dalam arti
terakhir itu berteologi adalah berfilsafat juga.
Teologi sebagaimana diketahui
membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Mempelajari teologi akan memberi
seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak
dapat diombang-ambing oleh peredaran zaman. Teologi Islam yang diajarkan di Indonesia pada umumnya adalah teologi dalam bentuk
ilmu tauhid.
Masalah teologi dalam tradisi Islam memang mempunyai sejarah yang cukup panjang. Setelah rasulullah saw
wafat terjadi berbagai perselisihan umat mengenai siapa yang berhak menjadi
pengganti/khalifah. Isu paling hebat terjadi pada masa Ustman bin Affan dan Ali
bin Abi Thalib di mana pada saat itu muncul berbagai paham teologi yang timbul
akibat pergolakan politik. Pada saat itu muncul paham Qadariah dan Jabariah, juga aliran Khawarij. Setelah masa Ali
masalah teologi semakin ramai dipersoalkan, maka kembali muncullah berbagai
paham teologi, seperti aliran Murji’ah, Syiah, dan Mu’tazilah. Selain faktor politis yang menyebabkan
munculnya perbedaan pada paham teologi, ada lagi faktor pertemuan antara ajaran
Islam dengan kebudayaan lain. Faktor lainnya, yaitu berkaitan dengan pemahaman
ayat Al-Qur’an.
Walaupun muncul berbagai
aliran dalam bidang teologi, namun aliran-aliran di atas tetap meyakini konsep
monoteisme, yaitu ajaran agama yang mempercayai adanya satu Tuhan; kepercayaan
kepada satu Tuhan. Aliran-aliran yang ada walaupun saling bertentangan dalam
berbagai hal namun mereka tetap mempercayai bahwa hanya ada satu Tuhan Yang Maha Esa, satu Tuhan Yang Disembah.
Teologi masyarakat Jawa pada
zaman Hindu Budha adalah politeis, atau
percaya pada banyak dewa, kemudian Islam datang dengan paham
monoteis, yaitu hanya menyembah kepada satu Tuhan. Akulturasi dari keduanya
adalah konsep mistik Dewaruci,
yang mempunyai dua aliran. Pertama, pandangan
mengenai Tuhan yang bersifat pantheistis, yang menganggap Tuhan sebagai yang
terbesar, tak terbatas, dan sebagai seluruh alam semesta ini, tetapi yang sebaliknya Tuhan dapat berbentuk kecil sekali sehingga dapat dimiliki setiap manusia.
Kedua, pandangan monistis, yang
menganggap Tuhan sebagai Maha Besar, tetapi berada di dalam segala bentuk kehidupan di alam semesta ini,
termasuk manusia, yang merupakan makhluk yang sangat kecil saja di antara
segala hal yang ada.
Teologi Islam Jawa pun
mengalami harmonisasi dengan sufisme. Hal ini dapat kita lihat dari idiom-idiom
Islam Jawa yang antara lain, “Pangeran iku ana neng endi papan, ana ing siro
ugo ono Pangeran, nanging aja siro ngaku Pangeran”. Artinya, “Tuhan ada
dimana-mana, juga ada dalam dirimu, tetapi janganlah engkau mengaku menjadi
Tuhan”. Statemen ini menunjukkan unsur-unsur teologi Sunni yang bercampur
dengan sufisme praksis (tasawuf ‘amali) Sunni. Jika ditelusuri lebih jauh,
idiom-idiom ini banyak dipengaruhi oleh sufisme al-Ghazali yang berkolaborasi
dengan tasawuf Sunni.
Yang lebih menarik dicermati,
nalar teologis Islam Jawa ternyata sangat pluralistik dan inklusif. Idiom-idiom
teologi Jawa mengatakan, “Pangeran iku siji, ana ing ngendi papan, langgeng,
sing ngandadeake jagad iki sak isine, dadi sesembahane wong sealam kabeh
nganggo carane dewe-dewe”. Artinya, “Tuhan itu Satu, ada di mana-mana, abadi,
pencipta alam semesta, dan yang disembah oleh seluruh penghuni alam semesta
dengan cara yang berbeda-beda”. Umat Islam, Kristiani, dan Yahudi sejatinya
menyembah Tuhan yang sama, yaitu Allah, meskipun caranya beragam. Dalam konteks
masa kini, spirit pluralistik dan inklusif ini seyogyanya dilestarikan untuk
membina kedamaian dan toleransi di Indonesia yang belakangan diwarnai oleh
tindakan-tindakan intoleran dari kalangan Islam radikal. Nalar teologi Islam
Jawa juga mengajarkan egalitarianisme melalui idiom “Pangeran iku ora
mbedak-mbedakke kawulo-Ne” (Tuhan itu tidak membeda-bedakan hamba-Nya). Spirit
egalitarianisme ini harus ditegakkan kembali di tengah-tengah maraknya
diskriminasi terhadap perempuan dan ketidakadilan hukum yang selalu merugikan
orang-orang lemah.
Nalar teologis Islam Jawa
sering dituding menganut paradigma predestinasi (Jabariyyah) yang mengajarkan
kepasrahan total dan mutlak kepada Tuhan, sehingga bangsa ini mudah dijajah
oleh para imperialis Barat. Etos kerja bangsa kita juga rendah karena dicekoki
oleh idiom nerimo ing pandum (menerima apa adanya) tanpa mau berusaha
memaksimalkan potensi anak bangsa. Akibatnya, bangsa kita mudah terjajah oleh
kapitalisme Barat dan menjadi negera dengan budaya konsumerisme yang akut.
Teologi predestinasi Islam Jawa ini harus diluruskan dengan teologi yang
mendorong etos kerja yang terdapat dalam idiom Jawa “Pasrah marang pangeran iku
ora ateges ora gelem nyambut gawe, nanging percoyo yen
Pangeran iku Maha Kuoso”. Artinya, “Pasrah kepada Tuhan bukan berarti tidak mau
bekerja, tetapi percaya bahwa Tuhan Maha Kuasa menolong hamba-Nya”. Namun
bermodalkan etos kerja saja tidak mencukupi, sebab pemerintah kita tidak
menyediakan lahan pekerjaan yang luas dan kelayakan gaji, sehingga tidak aneh jika banyak anak negeri yang memilih menjadi TKI meskipun berisiko tinggi, seperti penganiayaan yang dialami oleh Sumiati.
Nalar teologis Islam Jawa yang
diusung oleh para leluhur memperingatkan kita akan pentingnya mencari rezeki
yang halal. Idiom teologi ekonomi Jawa menyatakan, “Bandha kang resik iku kang
nyambut gawe, saka pametu kang ora ngrusakake liyan” (harta yang bersih itu
diperoleh dari kerja keras dan dari sumber yang tidak merusak orang lain).
Dengan demikian, korupsi merupakan kejahatan yang keji yang harus diperangi
secara nyata oleh penegak hukum dan tidak cukup hanya melalui retorika belaka
dalam politik pecintraan ala SBY. Kasus Century dan mafia pajak yang melibatkan
Gayus sebagai aktornya memperlihatkan betapa mahalnya kejujuran dalam mengemban
amanat di negeri ini. Kita seharusnya malu dengan leluhur bangsa yang
senantiasa menganjurkan mencari “bondho resik”.
Islam bukanlah produk budaya, tetapi ajaran Islam mampu mewarnai berbagai aspek kebudayaan. Dalam
implementasi ajarannya, Islam memerlukan media untuk mentransformasikan
nilai-nilai universalnya ke dalam tataran praksis kehidupan. Dari sinilah
muncul keragaman budaya Islam, yang disebabkan adanya perbedaan penafsiran dan
pembumian ajaran Islam. Maka ajaran Islam sesungguhnya merupakan hasil
perpaduan antara ajaran Islam yang dipahami masyarakat dengan kebudayaannya,
atau penerjemahan universalitas ajaran Islam ke dalam lokalitas kebudayaan.
3. Akulturasi Dalam Bidang Tasawuf
Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa,
menjernihkan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memperoleh kebahagian
yang abadi. Tasawuf merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam.
.
Pola berpikir sufistik membawa
kepada paham ruh aktif, yang menyimpang dari ajaran Islam yang menganut paham ruh pasif. Bahwa ruh orang yang telah meninggal tidak dapat beramal lagi. Menurut Al-Ghazali, dengan
jalan tasawuf para sufi bisa langsung membaca suratan nasib di lauh mahfuzh.
Dengan demikian, tanpa belajar mereka bisa menguasai segala ilmu yang tertulis
di lauh mahfuzh. Bahkan para sufi bisa mengetahui apa yang akan terjadi
dikemudian hari, yakni lantaran ngerti
sedurungwinarah.
Dari fakta sejarah kemunduran
alam pikiran Islam ternyata mulai terjadi sejak abad ke-13 M hingga abad ke-20 M. Kerena itu, munculnya teori
semacam yang diketangahan oleh Abdul Hakim Hasan merupakan hal yang cukup
menarik.
Segolongan pengkaji tasawuf
berpendapat bahwa berkembangnya ajaran tasawuf itu berkaitan erat dengan sejarah kemunduran suatu masyarakat. Tasawuf memang fenomena umum dalam kehidupan
setiap masyarakat, yang timbul dari fitrah kehidupan masyarakat sebagai
masyarakat bukan sebagai individu. Maka umat ini menurut tabiatnya berpaling
untuk merenungkan penyempurnaan ruhani dan makrifat, yakni ada kemerosotan dan
kemunduran dalam kehidupan keduniaan mereka.
Demikian pula, ketika
kekuasaan raja-raja Jawa di runtuhkan oleh
pemerintah kolonial Belanda, kompensasi bagi
kebudayaan Jawa adalah coraknya yang makin bersifat mistik. Dengan
demikian, mistisme menjadi nilai paling berharga bagi masyarakat Jawa zaman penjajahan.
Hidup orang Jawa yang menekankan ketentraman batin, keselarasan dan
keseimbangan, sikap nrima terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil
menempatkan individu di bawah masyarakat dan masyarakat dibawah semesta alam.
Konsep hidup nrima ing pandum (ora ngoyo), selanjutnya mengisyaratkan
bahwa orang Jawa hidup tidak terlalu berambisi.Usaha dalam upaya perubahan
adalah sebuah improvisasi atas kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Orang Jawa pra Islam mewujudkan hal tersebut
dalam bentuk tapa, puasa, maupun sekedar menjaga diri dari perbuatan
yang tidak baik. Hal ini bisa menggambarkan bahwa orang Jawa memahami dan
menerapkan konsep hidup jangan ngoyo. Ngoyo artinya memaksakan diri
untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat materialistik atau menahan hawa nafsu.
Hal tersebut dipercaya bahwa melakukannya dapat menyucikan dan menenangkan jiwa, serta bisa mendekatkan diri dengan
Tuhan Yang Maha Kuasa.
4. Akulturasi Dalam Bidang Kosmologi
Kosmologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara
khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek.
Kosmologi dipelajari dalam astronomi, filosofi, dan kosmogoni . Dalam akulturasi mengenai kosmologi atau hal
penciptaan alam dan peenciptaan manusia, atau kosmogoni dan kosmologi Jawa, keduanya percaya bahwa alam semesta dan
manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam islam Tuhan menciptakan
alam semesta dalam waktu tujuh hari, Tuhan menciptakan Adam
sebagai makhluk pertama, dan sebelum menciptakan alam. Sedangkan dalam
kepercayaan Jawa pra Islam yang dipengaruhi oleh
ajaran Hindu Budha percaya bahwa Brahma yang
menciptakan bumi dan Wisnu yang menciptakan manusia. Ritual dalam hal kosmik
orang Jawa, misalnya adalah slametan,
sekaten, bersih desa, dan sebagainya dengan
berbagai atribut, bentuk, dimensi dan maknanya, selalu diupayakan bagi
kesinambungan dan harmonisasi kosmik ini.
Hubungan akulturasi kosmologi antara Islam dan Jawa salah satunya dalam kosmologi Islam ,hubungan jiwa, badan dan
Allah sering dijelaskan dengan merujuk pada simbolisme Ka’bah dan ritus-ritus
ibadah haji. Ka’bah juga menjadi titik yang sangat menonjol dalam kosmologi Islam yang mempresentasikan bumi dari singgasana Allah. Di Jawa penyamaan
Ka’bah dengan hati secara harfiah sudah ada. Serat Wirid, teks Surakarta abad
ke-19 menyatakan bahwa Ka’bah masing-masing terletak di kepala, dada, dan kemaluan. Budi, suksmo, nepsu, rasa dan esensi Illahi
terletak di kepala dan dada, sementara rasa, esensi Illahi , dan kekuatan
kreatif terletak di kemaluan (Hadiwijono dalam Woodward,1999:279). Salah satu
contoh mudah kita temukan dalam hal astronomi adalah orang Jawa memiliki kecakapan hidup seperti memanfaatkan rasi bintang sebagai
patokan permulaan masa tanam atau bertani. Dalam ilmu astronomi Islam posisi
bintang atau Rasi digunakan untuk penanggalan dan sebagainya. Tampak dari situ terdapat hubungan meskipun hanya sedikit. Setelah kedatangan Islam akulturasi antar
budaya atau pun ilmu pada bidang kosmologi terjadi bersamaan dengan peralihan
kepercayaan dari Jawa pra Islam ke Jawa Islam.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
1. Akulturasi menurut kamus
Antropologi adalah pengembalian atau penerimaan satu atau beberapa unsur
kebudayaan yang saling berhubungan atau saling bertemu. Dalam konsep tersebut Islam
diposisikan sebagai kebudayaan asing dan masyarakat lokal sebagai penerima
kabudayaan asing tersebut.
2. Teologi adalah pengetahuan
metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan berdasarkan iman. Akulturasi teologis Islam Jawa yang diusung oleh para leluhur
memperingatkan kita akan pentingnya mencari rezeki yang halal.
3. Tasawuf adalah ilmu untuk
mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlaq, membangun
dhahir dan batin, untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Konsep tasawuf dalam Islam dan Jawa adalah tekun beribadah,
memutuskan hubungan dari selain Tuhan, menjauhi kemewahan dan kegemerlapan
duniawi, meninggalkan kelezatan harta dan tahta yang sering dikejar kebanyakan
manusia dan mengasingkan diri dari manusia untuk beribadah.
4. Kosmologi adalah ilmu yang
mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara
khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Setelah kedatangan Islam akulturasi antar budaya atau pun ilmu pada bidang
kosmologi terjadi bersamaan dengan peralihan kepercayaan dari Jawa pra Islam ke
Jawa Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Sudarto, Ed. Darori Amin. 2002. “Interelasi Nilai Jawa dalam Pewayangan”
dalam Islam dan Kebudayaan Jawa.Yogyakarta:
Gama Media.
Woodward, Mark R.
1999. Islam Jawa. Yogyakarta : LKiS.
Yusuf, Mundzirin dkk. 2005. Islam dan Budaya Lokal. Yogyakarta:
Pokja Akademik UIN Suka
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya (18 Desember 2013,
pukul 23.00)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar