Mungkin terdengar aneh ketika begitu banyak orang memburu kemenangan dan ingin di posisi yang menang kemudian mencampakkan orang yang ia Kalahakan di sertai ucapan *saya kok di lawan*. Sebagian orang Jepang rela mengakhiri hidupnya, begitu ia dinyatakan kalah. Di lembaga pendidikan kitapun telah terbawa oleh arus negatif dan serba hina lainnya bahwa "kalah itu musibah". Di tempat kerja juga serupa, sikut-sikutan demi pangkatnya naik. Apalagi di dunia politik, kekalahan hanyalah sebuah kesialan.
Kemenangan ibarat padi bagi petani, seperti ikan buat nelayan. Ia pembangkit energi bagi berputarnya kehidupan, pemberi semangat agar tidak kelelahan. Namun sehebat apapun semangat itu menggelora, kalau sudah waktunya kalah, siapapun tak ada yang bisa menolaknya.
Bagi kaum bijak, belajar melatih diri untuk tetap tersenyum baik didepan kemenangan maupun kekalahan, sambil tetap komitmen berusaha, bekerja dan berdo'a berserah diri kepada yang Maha Kuasa.
Membawa tropi kemenangan dan dihormati, disegani memang indah. Tapi, tersenyum, tenang didepan kekalahan, hanya orang yang berpandangan mendalam saja yang bisa melakukannya.
Sebagian orang bijaksana berujar, bahwa kekalahan lebih memuliakan perjalanan dibandingkan kemenangan. Terutama karena di depan kekalahan manusia sedang dilatih, dicoba dan dihaluskan. Kekalahan seperti ampelas yang menghaluskan kayu (patung) yang berharga sangat mahal. Serupa pisau tajam yang melubangi bambu (seruling) yang mewakili keindahan.
Kesabaran, kerendahhatian, ketulusan, keikhlasan adalah kualitas-kualitas yang sedang dibuka oleh Kekalahan. Serangkaian hadiah yang tidak mungkin diberikan oleh kemenangan. Bagi dia yang telah membuka pintu ini: Kalahakan itu sangat indah.
Jarang terjadi ada manusia yang dapat mengukir makna mendalam ditengah gemilang kemenangan. Pengukir-pengukir makna yang mengagumkan seperti Muhammad saw, Kahlil Gibran, Jalalludin Rumi, Rabindranath Tagore, Dalai Lama semuanya melakukannya di tengah-tengah ke Kalahari dan kesedihan.
Bagi mereka yang biasa tidak puas, serba kurang, menuntut selalu lebih, akan melihat kehidupan sering tidak menyenangkan di mana-mana.
Sebaliknya, bagi mereka yang berhasil melatih diri untuk selalu bersyukur, ikhlas, tulus, sabar, mengalah, serba menerima, mereka melihat lebih banyak wajah indah kehidupan.
Bagi sebagian orang bijak bila ditanya mau kaya atau miskin, ia akan memilih miskin. Bila diminta memilih antara menang dan kalah, ia akan memilih kalah. Kaya tentu saja berkah, namun sangat sempit ruang-ruang untuk berlatih disana. Miskin memang ditakuti banyak orang. Namun, kemiskinan menghadirkan daya paksa yang tinggi untuk senantiasa rendah hati. Menang memang membanggakan, namun godaan ego dan keangkuhannya besar sekali. Kalah memang tidak diinginkan oleh semua orang, tetapi kekalahan adalah ibunya kesabaran.
Tidak ada awan hitam kesedihan atau putih kebahagiaan yang bisa mengubah langit. Dan ini lebih mungkin terjadi pada hati manusia yang sudah berhasil memaknai kekalahan.
Nah..., bila saya, anda, mereka dan kita semua yang pernah mengalami kekalahan dalam salah kehidupan ini, maka jadikanlah itu sebagai "a blueprint that found within our mind". Tidak membiarkan kemarahan dan ketidakpuasan mendikte jiwa kita karena membiarkan itu terjadi, sesungguhnya hanya akan memperpanjang daftar penderitaan yang memang sudah panjang. Belajar untuk memaknai kekalahan adalah melihat kebiasaan kita dalam "mengerti".
Akhirnya, marilah terus belajar untuk bisa dan ikhlas menerima setiap episode "kekalahan" dlm kehidupan. Insya Allah makna yg akan kita peroleh akan sangat banyak dan begitu dalam.
dan memasrahkan setiap "kekalahan" hanya kepadaNya semata... *Copas group sebelah* semoga Bermanfaat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar